Karhutla di Kalimantan Mengancam Habitat Orang Utan pada 2026

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mengancam kelangsungan hidup orang utan dengan 17.375 titik panas yang mengepung habitat primata itu sepanjang 1 Juni hingga 28 Agustus 2026, dilansir dari Detik Travel.

Jumlah titik panas tersebut mencapai 78,5 persen dari total 22.740 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan selama periode yang sama oleh Geopix, lembaga riset dan konservasi independen.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyampaikan keprihatinan atas penyusutan habitat orang utan yang berstatus sangat terancam punah.

"Sangat miris melihat bagaimana kita harus kehilangan begitu banyak luasan habitat orang utan di Kalimantan. Manusia mungkin masih bisa mengungsi ke tempat kerabatnya yang aman, tetapi bagaimana dengan satwa? Ini harus jadi perenungan bersama untuk meningkatkan mitigasi serta perlindungan orang utan ke depannya," ujar Annisa dalam konferensi pers di Yogyakarta, Rabu (3/9/2026).

Analisis pemetaan yang menggunakan ArcGIS, Earth Engine, dan RStudio menunjukkan lonjakan signifikan titik api pada Agustus 2026. Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii paling terdampak dengan 13.085 titik panas di wilayah jelajahnya, khususnya di Kalimantan Barat.

Kebakaran ini memperparah kerusakan hutan yang sebelumnya telah rusak akibat alih fungsi lahan dan pembukaan hutan. Dampaknya termasuk hilangnya sumber pangan dan tempat tinggal orang utan yang arboreal, serta fragmentasi habitat yang membuat wilayah jelajah mereka semakin sempit dan terisolasi.

Risiko konflik dengan manusia meningkat karena orang utan yang kelaparan kerap keluar hutan menuju pemukiman atau perkebunan, meningkatkan ancaman perburuan dan pembunuhan.

Asap karhutla juga menyebabkan gangguan kesehatan dan stres berkepanjangan yang melemahkan sistem imun orang utan.

Annisa memperingatkan bahwa jika mitigasi dan pemulihan ekosistem tidak segera dilakukan, Indonesia menghadapi ancaman kepunahan massal orang utan.

"Jika kita tidak segera menghentikan rantai bencana karhutla ini, sama saja kita sedang menyaksikan pembunuhan massal orang utan secara perlahan," kata Annisa.

Pusat rehabilitasi orang utan Center for Orangutan Protection (COP) mengalaminya langsung di dua lokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang menampung 18 individu orang utan.

Di Kampung Tasuk, kebakaran gambut selama tiga hari berhasil dipadamkan berkat bantuan petugas pemadam dan perusahaan lokal.

Namun di Hutan Labanan, kebakaran yang semakin dekat dengan lokasi rehabilitasi orang utan bernama Ambon sempat mengancam keselamatannya pada akhir Agustus 2026.

"Abu sisa kebakaran sempat beterbangan sampai ke area kandang Ambon, meski jumlahnya masih tersaring. Beruntung, berkat kerja sama dengan Manggala Agni dan BP2SDM, api berhasil dipadamkan. Kondisi Ambon saat ini masih sehat dan terpantau normal," ujar Manajer Komunikasi COP, Wahyuni.

COP telah menyiapkan skenario evakuasi darurat untuk Ambon jika keadaan memburuk, termasuk penyediaan kolam air, kandang angkut, dan tim dokter hewan.

Wahyuni menambahkan bahwa padamnya api bukan akhir dari ancaman, melainkan awal dari masalah baru seperti perebutan makanan dan potensi konflik dengan warga sekitar.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed