Pakar Sebut Karhutla di Kalimantan Makin Parah Dampak El Nino

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan sejumlah wilayah Indonesia semakin parah akibat pengaruh El Nino yang menyebabkan lahan gambut mengering dan meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi ini disampaikan oleh pakar konservasi Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD pada Senin, 24 Agustus 2026, di Jakarta.

Prof Jatna menjelaskan bahwa karhutla terjadi terutama di lahan gambut, yang merupakan lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik selama ribuan tahun dalam kondisi tergenang air dan minim oksigen.

"Semuanya gambut (wilayah karhutla). Ya, daerah-daerah gambut itu semua," ujar Prof Jatna.

Musim kemarau dan El Nino membawa hawa kering yang membuat lahan gambut mudah terbakar, seperti minyak tanah. Api mudah menyebar terutama karena titik api muncul di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan.

"Kalau El Nino sampai 2027, ini yang berbahaya sekali. Kita akan lama, kemungkinan terbakar ini juga lama. Kita harus siap beradaptasi dengan hal yang seperti ini," tegas Prof Jatna.

Prof Gono Semiadi, pakar konservasi dan peneliti senior BRIN, menilai karhutla tahun 2026 sangat besar dengan hampir 60% kawasan hutan dan lahan terdampak.

Menurut Prof Gono, pemadaman tidak cukup hanya di permukaan karena api di bawah tanah menjadi masalah utama yang sulit dipastikan tuntas.

"Yang menjadi masalah kembali, kita tidak tahu seberapa banyak ketika itu dipadamkan, apakah bara-bara yang di dalam itu tuntas, apakah akan muncul lagi dengan nanti El Nino yang masih panjang," jelas Prof Gono.

Pemulihan lahan gambut juga menjadi tantangan besar karena membutuhkan data dasar untuk melakukan rehabilitasi sesuai ekosistem asli.

"Konteks untuk melakukan rehab dari perspektif biodiversity, ya kembalikan sedekat mungkin ke konteks yang awalnya, itu namanya suksesi. Kita harus duduk melihat ke data dasar ada nggak, apa saja. Itu yang menjadi challenge. Kalau datanya nggak ada, makin susah," ujar Prof Gono.

Waktu pemulihan lahan gambut sangat panjang, bahkan 10 tahun dianggap terlalu singkat untuk mengembalikan habitat dan ekosistem secara utuh.

"10 tahun di gambut itu nggak ada apa-apanya. Itu seolah-olah hanya sehari dari proses suksesi. Ini permasalahan. Jadi 10 tahun untuk konteks suatu biodiversitas harus bisa sediakan dulu rumahnya yang cocok habitat, ekosistem," tambahnya.

"Nah itu aja untuk wilayah Gambut, 10 tahun itu terlalu pendek. Itu hanya istilahnya 1 detik kegiatan dari suatu proses. Nah ini tantangan sekali," tutup Prof Gono.

Informasi ini dilansir dari Detikcom.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed