Karyawan Keluhkan Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi di Jakarta
Karyawan swasta di Jakarta mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku sejak awal September 2026, sehingga berdampak langsung pada biaya transportasi dan pengeluaran bulanan mereka.
Wira (26), seorang karyawan swasta, menyatakan bahwa pengeluaran untuk bensin motor jenis Pertamax Turbo meningkat dari sekitar Rp 300.000 menjadi Rp 450.000-500.000 per bulan.
Ia menambahkan, kenaikan harga ini membuatnya harus menunda servis motor yang biasanya dilakukan setiap bulan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk penggantian oli terpaksa dialihkan untuk membeli bensin.
"Sekarang Rp 450.000 sampai Rp 500.000 dalam satu bulan," ujar Wira di Jakarta Selatan, Senin (7/9/2026).
"Ada Rp 200.000 buat servis. Tapi, sekarang kan enggak begitu, ibaratnya jadi menunda. Yang biasanya saya ganti oli lah contohnya, oli kan biasanya tiap 2.000 kilometer, tapi semenjak bensin naik tuh jadi sekitar 2.500 kilometer (baru ganti)," tambahnya.
Selain menunda servis, Wira juga mengurangi kebiasaan makan di restoran dan mengalihkan budget tersebut untuk kebutuhan bensin tambahan saat beraktivitas di luar rumah dan kantor.
Meski mengurangi pengeluaran penting, Wira tetap mempertahankan kebiasaan membeli kopi dan jajanan ringan yang menurutnya sulit dihindari.
"Awalnya kan biasanya saya pesan Kopi Kenangan gitu sekitar Rp 25.000-an. Nah, jadi turun ke Family Mart yang lebih murah Rp 5.000, kalau enggak Kopi Jago cuma Rp 7.000 gitu," ujar Wira.
Dalam sehari, ia mengeluarkan sekitar Rp 20.000 hingga Rp 25.000 untuk jajanan seperti ciki, telur gulung, dan bakso tusuk, sehingga total pengeluaran untuk kopi dan camilan bisa mencapai Rp 1 juta per bulan.
Febryan (30), karyawan swasta lain, juga mengaku keberatan dengan kenaikan harga BBM namun tetap boros untuk jajan setiap hari dengan pengeluaran sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000.
"Jajan yang kadang bikin boros, setiap kerja pasti jajan sih, entah di Indomaret atau Family Mart," ujar Febryan.
Pengeluaran yang besar untuk jajanan ini menurutnya bisa dialihkan untuk kebutuhan vital lain, namun ia mengaku sulit menahan diri.
Erna (29), karyawan lain, mengeluhkan kenaikan harga BBM yang membuat pengeluaran hidupnya di Jakarta semakin mahal, terutama untuk makan yang mencapai Rp 4 juta per bulan.
"Dulu biasanya kalau ngisi full tank cuma Rp 45.000, sekarang pas udah naik Rp 57.000 baru full," ujar Erna, Senin.
Erna juga sering tergiur promo belanja online dan bisa menghabiskan sekitar Rp 1 juta per bulan untuk produk seperti skincare dan baju, meski bukan kebutuhan pokok.
Untuk mengatasi pengeluaran boros ini, Erna memilih membeli kebutuhan pokok untuk sebulan setiap kali gajian agar kebutuhan vital keluarga tetap terpenuhi.
"Makanya sekarang lebih mendahulukan belanja yang pokok-pokok dulu langsung stock sebulan, kaya keperluan anak dari kepala sampai kaki dan bahan makanan, beras, mie, frozen food, sama bumbu dalam sebulan," ujar Erna.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow