Kebakaran Hanguskan Desa Adat Sade Dan Lumpuhkan Ekonomi Warga
Sebanyak 75 rumah di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ludes terbakar pada Sabtu (22/8/2026). Peristiwa ini melumpuhkan sektor perekonomian warga lokal akibat anjloknya angka kunjungan wisatawan, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
Memasuki hari kelima pascakebakaran pada Kamis (27/8/2026), sisa reruntuhan rumah masih terlihat di kawasan pemukiman. Warga bersama pihak desa kemudian memasang spanduk serta menyediakan opsi donasi tunai dan non-tunai melalui QRIS atas nama Sade Rebound demi mempercepat pemulihan.
Salah satu warga setempat menjelaskan bahwa pemasangan spanduk yang memuat foto kondisi kampung sebelum kejadian bertujuan mempermudah masyarakat luar yang berniat menyalurkan bantuan.
"Itu memang sengaja kami pasang tadi pagi untuk melihat gambar sebelum terjadi peristiwa kebakaran itu," kata Tolib, salah satu warga Desa Adat Sade.
Tolib menegaskan bahwa dana yang terkumpul dikelola langsung secara terbuka oleh pihak pengurus desa dan dusun, serta bukan untuk kepentingan pribadi.
"Nah jadi kalau nomor rekening itu nanti untuk donatur. Ketika nanti ada yang mau menyumbang maka menggunakan QRS maupun rekening," ujar Tolib.
Ia juga menambahkan bahwa warga siap melepas spanduk donasi tersebut apabila dinilai kurang tepat oleh pihak berwenang.
"Itu dilakukan satu pintu, dikoordinir oleh desa dan dusun," dia menambahkan.
Warga tidak berniat menjadikan lokasi tersebut sebagai objek wisata bencana, melainkan sekadar menunjukkan gambaran kondisi awal desa saat menerima kunjungan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana.
"Kalau ada kekhawatiran dari elemen yang ada kami akan copot. Tapi karena ibu Menteri datang, sehingga kami memasang bahwa kami memiliki gambaran sebelum kampung ini terbakar. Walaupun sudah datang sebelumnya," ujar Tolib.
Dampak kebakaran ini juga menghentikan perputaran ekonomi puluhan pedagang suvenir dan pemandu wisata yang mengandalkan kedatangan puluhan hingga ribuan turis setiap harinya.
"Kita tidak pernah menyangka hari ini akan sepi. Tinggal abu dari alang-alang dan kayu," kata Sanah Ardinata, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Rembitan.
Api menjalar sangat cepat dan meratakannya dengan tanah hanya dalam durasi beberapa puluh menit saja.
"Lari-lari. Api sudah mulai membakar semua," kata Sanah menirukan suara warga saat kejadian.
Selain menghancurkan puluhan unit rumah warga, kobaran api turut membakar ikon area permukiman berupa pohon cinta hingga menjadi arang.
"Sebelum terbakar, kunjungan turis asing (bule) bisa mencapai 250 orang per hari. Sekarang lihat sendiri," kata Sanah.
Pada masa ramai atau agenda kejuaraan balap, jumlah kunjungan harian wisatawan domestik bahkan sempat menembus angka seribu orang per hari.
"Kalau wisatawan domestik sekitar 500 orang sehari. Bahkan kalau sedang ada event MotoGP atau high season, turis asing yang datang pakai motor sendiri bisa mencapai 300 orang sehari, dan domestik bisa tembus hingga 1.000 kunjungan dalam sehari," ujar Sanah.
Kondisi ini membuat pendapatan harian puluhan toko suvenir serta puluhan pemandu wisata lokal turun secara drastis.
"Perputaran ekonomi satu art shop itu sebulan lumayan. Ada yang bisa dapat keuntungan bersih Rp 1 juta per hari, walau ada juga yang dapat Rp 100 ribu per hari, memang tidak merata. Tapi kalau diambil rata-rata keuntungan bersih sekitar Rp 250 ribu per hari dari 69 art shop yang ada," kata Sanah.
Besaran pendapatan pemandu wisata lokal untuk turis asing juga terdampak langsung karena kini tidak ada lagi wisatawan yang memberi tips.
"Untuk pemandu lokal yang memandu turis asing, rata-rata bisa membawa pulang tips hingga Rp 500 ribu sehari," kata Sanah.
Masyarakat setempat saat ini menggantungkan harapan pada uluran tangan para donatur dan bantuan pemulihan dari pemerintah.
"Kami hanya bisa berharap bantuan dan langkah pemulihan agar geliat ekonomi warga dapat segera bangkit," dia menambahkan.
Dalam rencana rekonstruksi permukiman, warga berencana membangun kembali pemukiman secara tradisional tanpa menggunakan semen, LPG, maupun aliran listrik modern.
"Kami sadar selama 25 tahun ini Sade ini semrawut, terlalu komersil dan sebagainya. Jadi memang konsep kami adalah Sade reborn, lahir kembali. Kami ingin Sade ini betul-betul otentik," ujar Sanah.
Langkah penataan ulang bangunan ini dilakukan berpacu dengan waktu sebelum datangnya musim hujan.
"Kami ingin kembali ke kampung adat tradisional. Artinya tidak ada listrik? Ya kita akan kembali seperti masa lalu menggunakan kayu bakar dan lampu minyak kelapa," kata Sanah.
Warga tetap mempertimbangkan saran terkait pengadaan listrik fasilitas penerangan umum setelah adanya imbauan dari pihak kementerian.
"Tadi Ibu Menteri menyampaikan kita butuh listrik. Itu akan kita pertimbangkan. Karena masyarakat juga trauma dengan listrik.
Mungkin nanti kita butuh untuk penerangan, di dalam rumah itu tetap original tidak ada listrik. Misalnya kalau zaman dulu itu pakai lampu minyak kelapa. Itu kan, tidak bahaya," kata Sanah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow