Kemangkatan Raja Harald V Terjadi di Tengah Kontroversi Kerajaan Norwegia
Kerajaan Norwegia mengumumkan kemangkatan Raja Harald V pada usia 89 tahun di Rumah Sakit Universitas Oslo pada Jumat (28/8/2026) pukul 06.35 waktu setempat, yang memicu masa transisi takhta di tengah situasi sensitif bagi keluarga kerajaan.
"Dengan rasa sedih yang mendalam kami mengumumkan bahwa Yang Mulia Raja Harald telah wafat hari ini. Raja Harald mengembuskan napas terakhir dengan tenang di rumah sakit Universitas Oslo pada Jumat 28 Agustus pukul 06.35," bunyi pernyataan resmi pihak istana.
Penguasa tertua di Eropa yang menjabat sejak 1991 tersebut wafat saat menjalani perawatan akibat anemia hemolitik sejak 17 Agustus. Momen suksesi kepada sang putra, Raja Haakon VIII, berlangsung bersamaan dengan sorotan publik terhadap Putri Mahkota Mette-Marit atas hubungannya dengan mendiang pelaku kejahatan seksual anak asal Amerika Serikat, Jeffrey Epstein.
Dokumen yang dirilis di AS pada Januari menunjukkan korespondensi antara Mette-Marit dan Epstein pada rentang 2011 hingga 2014. Selain itu, putra Mette-Marit dari hubungan sebelumnya, Marius Borg Høiby, dijatuhi hukuman penjara empat tahun pada Juni atas kasus pemerkosaan dan kekerasan. Rentetan kasus ini memicu penurunan dukungan publik terhadap monarki Norwegia hingga 54 persen pada Februari.
Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre menyampaikan belasungkawa resmi atas kepergian sang monark yang dinilai konsisten melayani rakyat.
"Dukacita mendalam dirasakan seluruh bangsa, dan rakyat Norwegia ditinggalkan dengan rasa terima kasih yang mendalam atas pengabdian panjang bagi Norwegia," ujar Støre.
Pemimpin negara tetangga turut memberikan penghormatan atas pengabdian almarhum sepanjang hidupnya.
"Selama bertahun-tahun, Raja Harald telah menjadi sahabat baik bagi saya, keluarga saya, dan Swedia. Saya mendoakan kesuksesan dan keberuntungan bagi anak baptis tersayang saya, Haakon, yang kini menggantikan ayahnya sebagai kepala negara," kata Raja Carl XVI Gustaf dari Swedia.
Ungkapan duka juga disampaikan oleh monarki Inggris yang mengenang sosok mendiang pimpinan Norwegia tersebut.
"Tokoh menonjol yang memimpin negaranya dengan kehangatan serta kerendahan hati dan melayaninya dengan dedikasi tanpa henti," kata Raja Charles dari Inggris.
Semasa hidupnya, Raja Harald V dikenal sebagai pembaru monarki modern yang mendukung keberagaman. Dalam pidatonya setelah serangan teror 2011 yang menewaskan 77 orang, sang raja memberikan penegasan moral kepada rakyatnya.
"Kebebasan lebih kuat daripada ketakutan," ujar Raja Harald V.
Ia juga menambahkan ungkapan empati mendalam secara personal kepada seluruh warga yang terdampak tragedi tersebut.
"Sebagai seorang ayah, kakek, dan suami, saya hanya bisa mulai merasakan sebagian dari rasa sakit yang Anda rasakan. Sebagai raja dari bangsa ini, saya merasakan apa yang dirasakan oleh Anda masing-masing," tutur Raja Harald V.
Sikap inklusif terus ditunjukkannya dalam berbagai kesempatan resmi kerajaan.
"Warga Norwegia berasal dari Afghanistan dan Pakistan, percaya pada Tuhan, Allah, atau tidak percaya pada apa pun, serta mencakup anak perempuan yang menyukai anak perempuan, anak laki-laki yang menyukai anak laki-laki, dan anak perempuan serta laki-laki yang saling mencintai," kata Raja Harald V pada 2016.
Pemerintah Norwegia mengibarkan bendera setengah tiang di seluruh negeri dan membunyikan lonceng gereja pada tengah hari sebagai bentuk penghormatan terakhir.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow