Kemdiktisaintek Sebut Seleksi Perguruan Tinggi China Capai 50 Persen

Smallest Font
Largest Font

Pembatasan kuantitas mahasiswa menjadi strategi China untuk menjaga kualitas dan keterjangkauan perguruan tinggi, sehingga hanya sekitar 50 persen lulusan SMA yang dapat berkuliah. Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di Jakarta, Senin (7/9/2026), dilansir dari Detikcom.

Ketatnya penyaringan peserta didik di China bahkan telah berlangsung sejak jenjang SMP. Siswa yang tidak lolos ke SMA umum akan diarahkan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Stella Christie memaparkan situasi tata kelola perguruan tinggi yang dihadapinya saat bertugas di China.

"Ini adalah segitiga yang hampir mustahil ditutup. Kalau bahasanya kadang-kadang ya, rungkad, rumit buat Bapak-Ibu sekalian di perguruan tinggi, termasuk kita di Kemdiktisaintek," tutur Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ia membeberkan bahwa ketatnya sistem seleksi membuat jumlah lulusan SMA yang bisa menembus perguruan tinggi sangat terbatas.

"Kebetulan saya kan 7 tahun di Tiongkok (China). Jadi, untuk bisa masuk ke SMA yang nanti bisa melanjutkan ke perguruan tinggi itu ketat sekali, luar biasa," paparnya Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Proses penyaringan tersebut sudah dimulai sejak tingkat pendidikan dasar sebelum memasuki jenjang menengah atas.

"Dan semuanya ingin ke perguruan tinggi. Nanti dari SMA saringannya lebih ini (ketat) lagi," beber Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sistem pendidikan di China dinilai lebih memprioritaskan mutu akademis serta tingkat keterjangkauan biaya dibanding memprioritaskan jumlah mahasiswa.

"Jadi kualitas dijaga dan keterjangkauannya dijaga, bukan di tengah-tengah. Tapi kuantitasnya dibatasi," sambungnya Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pengalaman dari China tersebut menjadi cerminan bagi setiap pimpinan perguruan tinggi negeri di Indonesia untuk menentukan prioritas strategi lembaga masing-masing.

"Sebagai pemimpin pada saat ini letak perguruan tinggi Bapak-Ibu ini di mana di segitiga ini? Lebih ke kuantitas dan keterjangkauan kah? Sehingga strategi arahnya itu mau menyeimbangkan kualitasnya? Atau Bapak-Ibu sudah di kualitas dan keterjangkauan tetapi mengorbankan kuantitas?," tanya Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pilihan strategi dan penetapan arah kebijakan kampus dinilai menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Setelah kita menentukan Bapak-Ibu berada di mana di segitiga ini dan ingin ke arah mana, bisa, dan jangan lupa, bisa itu arahnya tetap dipertahankan. Tetap dipertahankan itu juga bisa. Barulah kita bisa menentukan apa yang harus kita lakukan," tegas Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Strategi kepemimpinan kampus tersebut dibahas dalam program Akademi Kepemimpinan Pendidikan Tinggi (AKPT) angkatan 1 tahun 2026. Program ini diikuti oleh 34 rektor PTN pada kelas pimpinan serta 61 peserta pada kelas future leaders untuk menguatkan sembilan dimensi kompetensi utama kepemimpinan perguruan tinggi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed