Kemenkes Waspadai Dampak Kabut Asap pada Jutaan Lansia di Delapan Provinsi
Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman serius bagi sekitar 3,8 juta lansia di delapan provinsi terdampak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kondisi ini memperburuk kesehatan lansia yang memiliki penyakit penyerta, terutama saat kualitas udara memburuk.
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan PM10 yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Lansia dengan riwayat asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) berisiko mengalami kekambuhan atau gejala memburuk. Selain itu, paparan polusi udara juga membebani sistem kardiovaskular, terutama bagi lansia dengan hipertensi atau penyakit jantung.
Kemenkes melaporkan hingga akhir Agustus 2026 terdapat lebih dari 50 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap, dengan hampir 40 ribu kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Kalimantan Barat mencatat lebih dari 16 ribu kasus, sedangkan Kalimantan Tengah melaporkan lebih dari 6 ribu kasus, dilansir dari Detik Health.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyampaikan bahwa lansia termasuk kelompok rentan karena biasanya sudah memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
"Lansia itu memang kelompok yang rentan karena biasanya sudah mempunyai penyakit penyerta atau komorbid," ujar Imran.
Untuk menghadapi kondisi ini, Kemenkes menyiagakan layanan kesehatan mulai dari puskesmas, rumah sakit rujukan, hingga pos pengungsian yang dilengkapi oksigen konsentrator, tabung oksigen, dan obat-obatan. Selain itu, distribusi masker telah dilakukan ke wilayah terdampak, dengan lebih dari 267 ribu masker dikirim ke Kalimantan Tengah dan lebih dari 470 ribu masker ke Jambi.
Kemenkes juga memantau kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Situasi Khusus, serta menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan tenaga kesehatan cadangan untuk kondisi darurat.
Imran mengingatkan keluarga dan caregiver lansia untuk mengenali tanda bahaya seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, dan kebingungan secara tiba-tiba.
"Jangan sampai karena bencana, pengobatan penyakit kronis mereka terputus," pungkas Imran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow