Kemenkes Imbau Gunakan Masker Akibat Partikulat Vulkanik Krakatau Tinggi

Smallest Font
Largest Font

Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan menyusul masih tingginya konsentrasi partikulat akibat erupsi susulan Gunung Anak Krakatau, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Hingga 6 September 2026, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif terjadi di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota yang terdampak abu vulkanik.

Pemantauan kualitas udara secara langsung dilakukan oleh Dante di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu (9/9/2026). Pengukuran menggunakan alat particulate counter tersebut menunjukkan kadar PM2,5 di area luar ruangan seperti Terminal Damri mencapai 63 µg/m³, berada jauh di atas batas aman 25 µg/m³.

"Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi," ujar Dante dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (11/9/2026).

Kondisi ini menjadi perhatian khusus sebab partikel kecil berukuran PM2,5 rentan terhirup hingga ke dalam saluran pernapasan manusia dan tidak selalu dapat terlihat oleh mata telanjang.

"Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi," jelas Dante.

Masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka diminta untuk tetap mewaspadai bahaya paparan polusi vulkanik tersebut.

"Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal," katanya.

Dari total kasus ISPA yang terdata oleh Kemenkes, sebanyak 3.771 kasus menyerang kelompok usia 0–5 tahun, sedangkan 12.988 kasus sisanya dialami oleh kelompok usia di atas 5 tahun.

Temuan kasus pernapasan pada tahun 2026 ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

"Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan," ujarnya.

Kemenkes juga meminta warga untuk membatasi diri dari paparan abu vulkanik di area terbuka hingga kualitas udara kembali membaik.

"Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan," katanya.

Anak-anak serta lansia yang masuk dalam kelompok rentan disarankan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. Kemenkes memastikan bakal terus memantau kualitas udara dan dampak kesehatan masyarakat pascaerupsi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed