Kementerdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Inovasi Olahan Tempe

Smallest Font
Largest Font

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong perguruan tinggi untuk mengandeng sektor industri dalam mengembangkan inovasi olahan tempe agar mampu menjadi komoditi ekspor global serta memperkuat ketahanan pangan nasional, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (2/9/2026). Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Dr Fauzan, M Pd menyoroti keterbatasan variasi olahan pangan berbasis kedelai tersebut di dalam negeri yang sejauh ini masih didominasi oleh produk konvensional. "Inovasi-inovasi di dalam dunia tempe ini memang masih relatif terbatas jenisnya, paling-paling kripik dan botok," kata Fauzan dalam acara Talkshow Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta.

Ia menekankan pentingnya peran kampus untuk memperluas potensi pasar produk tersebut ke tingkat internasional melalui hilirisasi riset.

"Tapi kan bagaimana tempe ini bisa menerobos menjadi komoditi global, ini yang perlu kita pikirkan atau barang kali kampus mana kira-kira yang mau menjadi serta industri (tempe)," lanjut Fauzan. Inisiatif peningkatan skala industri produk olahan pangan lokal tersebut mendapat tanggapan positif dari kalangan akademisi yang menilai kolaborasi riset dapat mewujudkan kemandirian industri berbasis perguruan tinggi.

"Menurut saya sih bagus juga ada kampus yang bisa menghilirisasi hasil-hasilnya, sampai bisa membuat pabrik yang dikelola oleh kampus itu sendiri. Jadi apa yang dihasilkan oleh perisetnya kemudian dapat berkolaborasi dengan industri, dapat skema riset dari pemerintah, kemudian dengan sumber daya yang ada dari kampus, itu bisa membangun industri, pabrik," tutur Peneliti Program Bestari Saintek sekaligus Ilmuwan Universitas Indonesia, Prof Wellyzar Sjamsuridzal. Fasilitas edukasi skala laboratorium atau teaching factory yang saat ini dimiliki berbagai perguruan tinggi menjadi modal awal sebelum melangkah ke skala manufaktur penuh.

"Bahwa ini adalah contoh skala mini untuk memproduksi pabrik yang dihasilkan di industri," kata Wellyzar. Universitas Indonesia dinilai menjadi salah satu institusi berbadan hukum yang siap mendukung langkah hilirisasi tersebut karena didukung infrastruktur unit bisnis terpadu. "Science Techno Park didukung oleh pendanaan dari LPDP, itu sekarang juga sudah memiliki startup yang menunggu spin-off dari industri.

"Ini juga mempertemukan industri-industri dengan inovator-inovator di universitas, agar risetnya bisa dihilirisasi," ungkap Wellyzar lebih lanjut.

Pengembangan riset terapan pada bahan pangan superfood ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat melalui standarisasi produk ekspor. "Nanti namanya Tempe Bestari Saintek. Ini baru dikatakan riset berdampak.

Jadi berdampak itu harus kita akhiri apakah memiliki value yang meningkatkan harkat martabat ekonomi atau tidak. Kita harus punya definisi itu," tegas Fauzan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed