Amerika Serikat dan Iran Sepakati Nota Kesepahaman Gencatan Senjata
Pemerintah Amerika Serikat dan Iran menyepakati nota kesepahaman (MOU) untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz secara penuh guna memulai negosiasi masa depan program nuklir selama 60 hari ke depan.
Kesepakatan tersebut diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu malam, 14 Juni 2026, setelah melalui proses negosiasi selama berbulan-bulan yang sempat diwarnai saling serang misil antara Israel dan Iran.
Berdasarkan kesepakatan jangka pendek tersebut, pihak Amerika Serikat akan menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Iran akan mengizinkan lalu lintas pengapalan melewati Selat Hormuz.
Donald Trump menegaskan bahwa dokumen setebal satu setengah halaman tersebut sangat berbeda dan jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015.
"a disaster." kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, saat diwawancarai New York Times mengenai kesepakatan era Barack Obama tersebut.
Donald Trump menilai kesepakatan lama tersebut justru memberikan jalan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir, berbeda dengan komitmen baru yang sedang dibangun saat ini.
"It was a road to a nuclear weapon and ours is a wall against a nuclear weapon in the truest sense of the word," ujar Donald Trump.
Sentivitas Donald Trump terhadap perbandingan kedua kesepakatan ini telah berlangsung lama sejak dirinya berkampanye menentang JCPOA pada 2015 hingga menarik AS keluar dari perjanjian tersebut pada 2018.
"lifted crippling economic sanctions on Iran in exchange for very weak limits on the regime’s nuclear activity," kata Donald Trump dalam pidatonya tahun 2018.
Donald Trump menuduh perjanjian lama tidak memberikan batasan pada perilaku buruk Iran lainnya, terutama dalam mendukung aktivitas teror di Timur Tengah.
"no limits at all on its other malign behavior," ujar Donald Trump.
Donald Trump juga menulis kritikan tajam di platform media sosial miliknya pada hari Minggu dengan mengeja nama mantan presiden secara sengaja.
"The Obuma Deal was a road to a Nuclear weapon for Iran, cash and all, one of the worst and dumbest (hence Dumocrats!) Deals ever made by the U.S. Our Deal is a WALL against Iran ever having a Nuclear weapon, the complete opposite of Obuma." kata Donald Trump.
Donald Trump menyatakan keinginannya agar teks kesepakatan baru segera dirilis kepada publik saat mendampingi Presiden Prancis Emmanuel Macron.
"It’s not like the Obama document, which was just a terrible document," kata Donald Trump.
Donald Trump memastikan bahwa isi dokumen yang ada saat ini dipersiapkan dengan sangat baik dan memiliki pengaruh yang kuat.
"This is a very powerful document, and I want it to be released. So probably pretty soon." ujar Donald Trump.
Di sisi lain, mantan Presiden Barack Obama memberikan pandangan kritis terkait langkah diplomasi yang diambil oleh pemerintahan Donald Trump saat ini.
"It is doubtful that any agreement that arises is going to be significantly different or a significant improvement from the deal that we had in the first place," kata Barack Obama, Mantan Presiden Amerika Serikat, kepada ABC yang disiarkan Senin.
Barack Obama menilai bahwa hasil akhir dari kebijakan luar negeri yang bombastis ini sebenarnya bisa dicapai lebih awal melalui jalur diplomasi formal.
"The notion that we can just bully our way or bomb our way to solutions may sometimes seem appealing, but the fact of the matter is, is that taking the time to explore diplomacy and exhaust the possibilities of coming up with deals that don’t solve 100% of the problem, but solve 80, 90% of the problem, while avoiding the necessity of going to war," ujar Barack Obama.
Barack Obama menambahkan bahwa para pemimpin seharusnya sudah mempelajari pelajaran berharga dari proses diplomasi masa lalu tersebut.
"You’d think we would have learned that lesson by now, but it seems like every so often we have to relearn that lesson again." kata Barack Obama.
Sementara itu, pihak Istana Gedung Putih mendelegasikan detail teknis implementasi kepada Wakil Presiden JD Vance yang dijadwalkan menandatangani dokumen tersebut di Jenewa, Swiss, pada Jumat mendatang.
"comprehensively destroyed" kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, mengenai status program nuklir Teheran saat ini yang dikutip oleh pihak bbc.com.
JD Vance menjelaskan proses verifikasi akan dibagi menjadi dua tahap sebelum Iran diizinkan kembali mengakses ekonomi dunia.
"That’s fundamentally the two-step process, the choice the Iranians have to make," kata JD Vance saat diwawancarai CNBC pada Senin.
JD Vance menegaskan pilihan sepenuhnya berada di tangan Iran jika mereka ingin kembali bergabung dalam sistem perdagangan global.
"Do they want access to the world economy? If" ujar JD Vance.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow