Donald Trump Janji Bantu Arab Saudi Hadapi Serangan Houthi

Smallest Font
Largest Font

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji memberikan bantuan intelijen kepada Arab Saudi untuk menghadapi serangan kelompok Houthi yang meningkat di perbatasan Yaman dan Laut Merah pada Sabtu (12/9).

Janji itu disampaikan setelah Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, meminta AS menyerang Houthi, namun Trump menolak permintaan tersebut.

Menurut sumber Al Arabiya English, Trump menjanjikan dukungan berupa intelijen dan penentuan target terkait Houthi yang didukung Iran dan semakin menguasai wilayah di garis pantai Yaman.

Situasi ini diperparah dengan peningkatan serangan yang menyebabkan dua orang terluka dan kerusakan pada masjid serta sejumlah bangunan di kawasan Jazan, perbatasan selatan Arab Saudi, akibat jatuhnya proyektil Houthi.

Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Arab Saudi menyatakan tindakan tersebut melanggar hukum humaniter internasional dan mengerahkan tim penanganan ke lokasi kejadian.

Seorang pejabat senior pemerintah AS menyatakan, "Amerika Serikat berfokus untuk melindungi kepentingan keamanan nasional utama kami -- seperti menjamin kebebasan navigasi di Laut Merah -- sembari memberdayakan mitra-mitra regional kami untuk mengambil peran utama dalam menangani dan menyelesaikan tantangan keamanan kawasan."

Pejabat itu juga menyebutkan dialog terus dijalin dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman demi stabilitas kawasan.

Meski demikian, media ABC News melaporkan bahwa pemerintahan Trump tidak berencana melakukan aksi militer langsung terhadap Houthi kecuali ancaman terhadap jalur pelayaran meningkat.

Selain serangan Houthi, Arab Saudi juga menghadapi serangan drone yang menargetkan East-West Pipeline di Riyadh dan Madinah pada Kamis, yang menyebabkan kerusakan fasilitas dan beberapa orang terluka.

Serangan ini dinyatakan berasal dari Irak yang menjadi pangkalan milisi yang didukung Iran. Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk Jasem Mohamed Albudaiwi mengecam keras serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.

Arab Saudi menutup sementara operasi pipa minyak utama sebagai tindakan pencegahan setelah serangan drone, dan saat ini masih menunggu langkah lanjutan dari Irak.

Mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi Michael Ratney mengatakan, "Ini benar-benar membuat frustrasi. Terlepas dari ketidaksukaan mereka terhadap Iran, ini adalah perang yang tidak pernah mereka inginkan dan sejak awal sangat mereka khawatirkan."

Ia menambahkan bahwa eskalasi konflik membuat skenario terburuk mulai menjadi kenyataan bagi Arab Saudi.

Dalam dua hari terakhir, Houthi merebut Kota Pelabuhan Mokha dan sebuah pulau di Laut Merah yang meningkatkan kemampuan mereka menghambat ekspor minyak Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb.

Data menunjukkan ekspor minyak Saudi ke Asia anjlok drastis dari 3,4 juta barel per hari pada Juni menjadi 128.000 barel per hari pada Agustus, dan baru meningkat sekitar 700.000 barel per hari pada September.

Neil Quilliam, pakar Timur Tengah dari Chatham House, mengatakan Arab Saudi menghadapi pilihan sulit karena setiap langkah militer yang diambil bisa memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko serangan balik Houthi terhadap infrastruktur energi.

Sherwan Hindreen Ali dari ACLED mengungkapkan, "Kerajaan Saudi sudah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya, tetapi persenjataan Houthi sekarang lebih canggih dibandingkan saat itu. Saudi juga kemungkinan memiliki lebih sedikit rudal pencegat yang tersedia sebagai dampak dari konflik Amerika Serikat-Iran."

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed