Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kritik Program Makanan Bergizi Gratis
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, menuai sorotan publik setelah melontarkan kritik tajam terhadap program Makanan Bergizi Gratis pemerintah dalam diskusi di Bundaran UGM pada Rabu, 24 September 2025.
Kritik tersebut memicu reaksi keras dari pihak istana dan memunculkan pengakuan mengejutkan mengenai adanya upaya penyuapan terhadap pimpinan gerakan mahasiswa.
Gelombang respons negatif muncul menyasar latar belakang Tiyo sebagai lulusan program kesetaraan Paket C di PKBM Omah Dongeng Marwah Kudus. Meski demikian, mahasiswa Filsafat angkatan 2021 yang berprestasi di bidang sastra ini tetap vokal menyuarakan hak dasar anak ke UNICEF pascakasus bunuh diri siswa di NTT.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, angkat bicara untuk menyanggah tudingan Tiyo yang memplesetkan singkatan satuan pelayanan pemenuhan gizi tersebut.
"Ada orang yang bilang SPPG itu adalah satuan penjilat Prabowo-Gibran. Nah, ini kan sok paten juga, nalarnya di diskon juga ini," kata Hasan Nasbi melalui video di akun Instagram pribadinya.
Hasan menambahkan bahwa program tersebut berdampak besar karena menyerap 1,5 juta tenaga kerja di dapur pelayanan gizi serta menyasar puluhan juta penerima manfaat dari kalangan anak sekolah hingga ibu menyusui.
"Kalau dia bilang SPPG itu satuan penjilat Prabowo-Gibran, berarti dia sedang mengata-ngatai 1,5 juta warga Indonesia yang bekerja di dapur SPPG sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Dia juga sama sedang mengata-ngatai 62 juta penerima manfaat anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui anak-anak balita. 62 juta penerima manfaat ini sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Hati-hati kalau bicara," ujar Hasan Nasbi memperingatkan publik agar lebih kritis.
Di sisi lain, Tiyo juga menyoroti kinerja pemerintah pascapenangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional oleh Kejaksaan Agung atas kasus korupsi.
"Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator. Seruan kebijakan. Dan saya rasa ada satu hal yang mungkin belum kita percakapkan malam ini, bahwa beberapa hari terakhir," cetus Tiyo Ardianto dalam program Bola Liar KompasTV pada Jumat, 5 Juni 2026.
Tiyo menilai perhatian masyarakat terhadap isu-isu ekonomi penting sempat teralihkan akibat momentum penegakan hukum tersebut.
"Sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG, tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi. Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika ditangkap," lanjut Tiyo Ardianto.
Sikap kritis ini memicu ancaman digital hingga upaya penyuapan senilai miliaran rupiah dari pihak yang mengatasnamakan lembaga berbintang agar gerakan mahasiswa dapat dikooptasi.
Fenomena ini memicu kekhawatiran terkait runtuhnya kepercayaan publik terhadap gerakan moral mahasiswa, mengingat banyaknya deretan mantan ketua BEM yang pada akhirnya menyeberang menjadi politikus partai dan komisaris.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow