Gaya Komunikasi Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Menuai Sorotan

Smallest Font
Largest Font

Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto menuai sorotan publik dan kecaman dari organisasi kemasyarakatan akibat pernyataan kritisnya terhadap Program Makan Bergizi Gratis pemerintah pada Senin, 15 Juni 2026.

Sorotan tersebut mencuat setelah Tiyo melontarkan kritik keras dengan menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai "Maling Berkedok Gizi" dan dinilai menyerang pribadi Presiden Prabowo Subianto. Perdebatan ini dibedah dalam Podcast Resonara Episode 11 pada Jumat, 12 Juni 2026, yang menghadirkan perwakilan mahasiswa Sulawesi Tengah, Athif Muhyiddin Hishad.

Athif menilai Tiyo sukses menarik perhatian publik nasional karena kombinasi ketajaman kritik serta strategi penyampaian pesan yang khas. Menurutnya, Tiyo merupakan satu-satunya anak muda saat ini yang berani tampil frontal dari daerah untuk mengkritik pemerintah pusat dengan dukungan akurasi analisis data dan logika kuat.

"Isi kritikan Tio hari ini. Dia bisa memprediksi secara tajam dan terbukti dengan pesan yang dia sampaikan. Dari dia men-framing dari baju yang sering dipakainya.

Kalau kita lihat di konten-konten, di ranah-ranah ruang diskusi. Tio memberikan kita pesan tersirat bahwasannya MBG harus diusut. MBG harus diselidiki.

MBG harus diperbaiki. Ada pemain di dalam ini," ujar Athif.

Athif menambahkan bahwa ketajaman analisis Tiyo terbukti melalui tindakan hukum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

"Dari situ terbuktilah perkataan Tio hari ini. Terbukti perkataan Tio hari ini. Yaitu apa?

Dia itu ditangkapnya, diprosesnya ex-ketua BGN. Yaitu Pak Dadan hari ini. Dan ditangkap.

Bayangkan. Terbukti apa perkataannya. Terbukti daripada apa yang disuarakan hari ini," tutur Athif.

Dari segi keilmuan komunikasi, Tiyo dinilai piawai menggunakan teknik daya pikat untuk menarik atensi penguasa dengan cepat, termasuk langkah berani mengirimkan surat ke lembaga internasional seperti UNICEF. Athif menjelaskan bahwa gaya tersebut bukan tindakan provokatif, melainkan bentuk ketegasan yang lahir dari keresahan murni mahasiswa atas pengelolaan anggaran program MBG.

"Penyampaiannya dengan sopan. Bahasa yang santun. Selayaknya halusnya orang Jawa berbicara.

Meskipun dia tegas. Dengan halus tapi perkataan yang tegas. Diksi kata yang tepat.

Untuk memberikan perkataan-perkataan yang satire. Dan mungkin tidak berapi-api. Tetapi kena di hati.

Sarkas. Makanya hari ini Tio itu bisa still on the top. Tetap bertahan di atas.

With isi penyampaian dan cara menyampaikan," jelas Athif.

Melihat meluasnya gelombang aksi demonstrasi di berbagai daerah seperti Jakarta dan Kendari, Athif memprediksi situasi politik dan ekonomi di Indonesia berpotensi memicu pergerakan besar.

"Saya katakan. Reformasi jilid 2 dan revolusi bisa jadi akan. Terjadi.

Dengan apa yang terjadi saat ini? Dengan prediksi yang Tios sudah katakan sebelumnya. Prediksi yang dia katakan bahwasannya MBG ini tidak baik-baik saja loh.

Kepala BGN harus diperiksa. Terbukti tersangka korupsi di dalam instansi itu. Instansi yang sangat basah.

Dan saya rasa reformasi jilid 2 dan revolusi bisa akan terjadi," tegas Athif.

Sebagai representasi mahasiswa dari Sulawesi Tengah, Athif mengapresiasi tinggi rekam jejak Tiyo yang dinilainya layak disebut sebagai presiden mahasiswa Indonesia karena mampu bersanding satu panggung dengan tokoh-tokoh nasional.

"Tindak tanduk, track record hari ini, layak kita mengatakan Tio sebagai presiden mahasiswa Indonesia. Karena itu tadi, tidak ada yang seberani Tio," kata Athif.

Athif mengakhiri pandangannya dengan menyerukan ajakan persatuan kepada seluruh elemen mahasiswa, khususnya di Kota Palu, agar menyudahi konflik internal kampus dan fokus mengawal isu-isu utama negara secara kolektif.

"Sebagai mahasiswa SulawesiTengah, marilah kita bersama-sama, bung Tio hari ini ingin kita bergerak secara kolektif. Ingin terbangun kesadaran kolektif dari masyarakat dan mahasiswa, tidak ada lagi kita mau konflik interanl dalam kampus Mari kita bersatu dulu ayo, ada yang harus kita nomor satukan, jangan menomor duakan hal ini," pungkas Athif.

Di sisi lain, kecaman keras datang dari Ketua DPC Lindu Aji Jolosutro Kabupaten Pati, H. Ahmad Sulaim Habibi atau Kaji Boim, yang menilai pernyataan Tiyo kepada Presiden Prabowo Subianto telah melampaui batas kritik dan cenderung mengarah pada makian.

"Kami menyayangkan pernyataan Saudara Tiyo kepada Pak Prabowo. Itu adalah makian tidak lagi kritikan," ujar Kaji Boim saat ditemui di Kantor DPC Lindu Aji Pati Utara, Senin, 15 Juni 2026.

Kaji Boim mengingatkan pentingnya menjaga ruang demokrasi yang sehat, terutama di tengah perkembangan media sosial yang memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat secara terbuka, namun tetap mengedepankan etika dan argumentasi yang membangun sebagai kalangan akademisi.

"Saya yakin Pak Prabowo tidak anti kritik. Harusnya kan dia bisa menjadi teladan bagi generasi muda yang kritis terhadap pemerintah. Kritik boleh, tapi harus disampaikan dengan baik. Kami dari Lindu Aji Pati, NKRI Harga Mati," tegas Kaji Boim.

Dilansir dari liputan9.id, lingkartv.com, dan beautynesia.id, Tiyo Ardianto sendiri merupakan Ketua BEM KM UGM periode 2025-2026 yang memiliki latar belakang pendidikan alternatif dari PKBM Omah Dongeng Marwah, Kudus, dengan ijazah Paket C. Mahasiswa jurusan Filsafat ini juga aktif di dunia sastra dan kepenulisan serta meraih berbagai prestasi nasional.

Mengenai keputusan menempuh pendidikan nonformal tersebut, Tiyo sempat menuangkan keresahannya melalui unggahan media sosial pribadinya.

"Setelah lulus SMP saya memutuskan untuk menempuh pendidikan alternatif -sesuatu yang orang juga sebut sebagai- sekolah alam, di Omah Dongeng Marwah: keputusan yang penuh resiko batin, sebab stigma masyarakat tentang siswa yang lulus dengan ijazah kejar paket C cukup bisa menyesakkan dada. Anda pasti bisa membayangkan apa saja kalimat yang muncul ketika itu. Keputusan itu ketok palu setelah melalui sidang panjang: banyak hal yang kami pertimbangkan, sampai kami pasrah kepada Tuhan - terserah biar Ia yang menunjukkan. Dan yang telah terjadi adalah petunjuk sekaligus suratan takdirNya," tulis Tiyo Ardianto di akun Instagram miliknya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed