Kim Yo Jong Kecam ASEAN soal Seruan Denuklirisasi Korea Utara
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengeluarkan kecaman keras terhadap ASEAN terkait seruan denuklirisasi Korea Utara yang disampaikan pada forum keamanan kawasan di Filipina. Pernyataan keras itu disampaikan pada Senin (27/7/2026) dan menunjukkan ketegangan meningkat karena Kim Yo Jong menilai ASEAN sudah kehilangan relevansi bagi negara yang bersenjata nuklir tersebut. Dia menyebut seruan denuklirisasi yang disuarakan ASEAN sebagai "mimpi liar yang bodoh dan sia-sia" dan menegaskan senjata nuklir adalah alat utama menjaga kedaulatan Korea Utara.
"Berpegang pada tujuan denuklirisasi hanyalah mimpi liar yang bodoh dan sia-sia," ujar Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara.
Kim Yo Jong juga menuduh ASEAN mengikuti narasi Amerika Serikat dengan menyebut blok tersebut sebagai "corong bayaran AS." Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah ASEAN Regional Forum mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan keprihatinan serius terhadap program nuklir dan rudal balistik Korea Utara yang dianggap melanggar sanksi PBB.
Menurut Kim Yo Jong, status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir sudah diatur dalam konstitusi negaranya, sehingga seruan denuklirisasi tidak lagi relevan.
"Senjata nuklir merupakan alat penangkal utama untuk menjaga kedaulatan dan menjamin keamanan nasional," lanjut Kim Yo Jong.
Kim Yo Jong menegaskan Korea Utara akan terus memperkuat kemampuan nuklirnya tanpa penundaan. Pernyataan ini disampaikan saat Korea Utara memperingati 73 tahun klaim kemenangan Perang Korea 1950-1953, yang juga dihadiri oleh Kim Jong Un. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membela kepemilikan senjata nuklir Korea Utara saat pertemuan ASEAN pekan lalu, menyatakan Pyongyang tidak punya pilihan lain untuk mempertahankan kedaulatan.
Di sisi lain, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang tetap menegaskan komitmen untuk denuklirisasi Semenanjung Korea dalam forum yang sama.
Meski demikian, pemerintah Korea Selatan kini lebih memprioritaskan pendekatan "peace first" melalui dialog pengendalian senjata daripada fokus pada target denuklirisasi jangka pendek. Korea Utara sendiri terakhir kali mengirim perwakilan ke ASEAN Regional Forum pada 2024 dan tidak hadir selama dua tahun berturut-turut di forum keamanan terbesar kawasan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow