KNKT Ungkap Sinyal Hijau Menyala Saat Tabrakan Kereta di Bekasi

Smallest Font
Largest Font

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa KA Argo Bromo Anggrek tetap memperoleh sinyal hijau sebelum menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden kecelakaan yang melibatkan dua rangkaian kereta tersebut dilaporkan telah menewaskan 15 orang dan menyebabkan puluhan korban luka-luka.

Pemaparan data faktual awal investigasi tersebut disampaikan oleh Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026). Berdasarkan catatan kronologi KNKT, kecelakaan beruntun ini bermula ketika KRL Commuter Line 5181 tertemper sebuah mobil taksi di perlintasan sebidang JPL Bekasi Timur jalur hilir pada pukul 20.48.29 WIB.

Beberapa menit pascatabrakan dengan taksi, KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan melintas langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi pukul 20.50.43 WIB. Sinyal keluar stasiun tersebut terpantau masih menunjukkan aspek berwarna hijau.

"KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau," ujar Soerjanto dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5/2026).

Temuan mengenai indikator persinyalan tersebut kemudian memicu pertanyaan dari Ketua Komisi V DPR RI Lasarus yang memimpin jalannya rapat kerja.

"Berarti kesimpulan yang didapat oleh KNKT waktu terjadi tabrakan antara kereta dengan mobil, terus bergeraklah kereta Argo Bromo Anggrek dan terjadilah menabrak kereta Commuter Line itu sinyalnya sudah hijau Pak ya?" tanya Lasarus.

Kepala KNKT kemudian memberikan konfirmasi singkat terkait kepastian warna dari aspek sinyal keluar di stasiun tersebut saat kejadian berlangsung.

"Sinyalnya hijau Pak," jawab dia.

Mendengar konfirmasi tersebut, Ketua Komisi V DPR RI kembali memberikan tanggapan mengenai keganjilan sistem persinyalan yang tidak berubah merah meskipun terdapat rintangan di jalur kereta.

"Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle," ujar Lasarus.

Menanggapi hal itu, pihak investigasi menegaskan bahwa institusinya masih dalam tahap pengumpulan data awal sehingga belum memformulasikan analisis teknis maupun kesimpulan akhir.

"Nanti kami jelaskan berikutnya," kata dia.

Pihak KNKT kembali memberikan penegasan bahwa laporan yang dibuka di depan anggota dewan sepenuhnya merupakan data lapangan dan bukan hasil akhir dari penyebab kecelakaan kereta.

"Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan," ujar Soerjanto.

Berdasarkan data kronologi lebih lanjut, KRL Commuter Line 5568A awalnya sempat berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur untuk mengevakuasi penumpang setelah tertemper taksi. Rangkaian KRL tersebut kemudian bergerak maju sejauh 1,69 meter lalu berhenti kembali akibat masinis melihat kerumunan warga di jalur hulu.

Tabrakan fatal akhirnya terjadi pada pukul 20.52.12 WIB saat KA Argo Bromo Anggrek menghantam rangkaian KRL Commuter Line tersebut. KNKT mencatat terdapat jeda waktu selama 3 menit 43 detik antara insiden taksi dengan tabrakan kedua kereta.

Dilansir dari Kompas.com, Menteri Perhubungan sebelumnya memaparkan bahwa gangguan perjalanan ini dipicu oleh mobil taksi yang berada di perlintasan sebidang JPL 85. Tabrakan dengan taksi membuat KRL relasi Bekasi-Cikarang berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur sebelum akhirnya ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed