Konflik Iran Dorong Antrean Pemeliharaan Kapal Induk dan Krisis Rudal AS

Smallest Font
Largest Font

Konflik yang berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan antrean panjang pemeliharaan kapal induk Angkatan Laut AS serta menurunnya stok rudal pertahanan udara, sehingga mempengaruhi kesiapan militer AS.

Angkatan Laut AS mengoperasikan 11 kapal induk dan biasanya mengerahkan dua hingga tiga kapal secara bersamaan. Namun, akibat peningkatan pengerahan, USS Theodore Roosevelt yang meninggalkan San Diego menuju Timur Tengah menambah jumlah kapal induk yang dikerahkan menjadi empat secara bersamaan.

Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, Brian Clark, mengatakan peningkatan pengerahan tersebut akan memperpanjang antrean di dua galangan kapal yang menangani perawatan kapal induk AS.

"Dalam waktu dekat, empat kapal induk akan dikerahkan pada saat yang sama," ujar Brian Clark.

Clark memperingatkan, "Kita pada akhirnya akan menghadapi utang pemeliharaan yang harus dibayar dalam beberapa tahun mendatang. Kemungkinan kehadiran kapal induk kita akan lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena kapal-kapal induk akan mengantre untuk masuk ke galangan."

Selain masalah pemeliharaan kapal induk, persediaan rudal pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD juga menipis drastis akibat penggunaan intensif sejak perang dengan Iran pecah pada Februari 2026.

Menurut estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS) per 27 Juli 2026, stok rudal Patriot menyusut dari 2.330 menjadi 759-827 unit, sedangkan THAAD turun dari 452 menjadi 234-278 unit.

Biaya penggantian rudal yang telah digunakan diperkirakan mencapai US$10 miliar, namun kapasitas produksi terbatas, sehingga pengisian kembali diperkirakan memakan waktu hingga tiga tahun.

Jim Bryan, Executive Director for Integrated Air and Missile Defense Boeing, menyatakan pihaknya tengah mengubah pendekatan manufaktur untuk menghasilkan rudal pencegat yang lebih murah dan dapat diproduksi massal.

"Kami ingin mengubah pendekatan terhadap sejumlah produk," ujar Jim Bryan.

Brigjen RJ Mikesh, pejabat pengadaan senjata Angkatan Darat AS, menegaskan pentingnya efisiensi biaya dalam menghadapi ancaman serangan udara modern.

"Ini mungkin menjadi salah satu masalah yang menentukan dalam perang modern," kata RJ Mikesh.

Keterbatasan kapal perusak kelas Arleigh Burke yang bertugas menghadapi serangan rudal balistik Iran juga memaksa perubahan prioritas dalam perlindungan keamanan nasional AS.

Seorang pejabat komando militer AS mengatakan, "Kekurangan kapal perusak Angkatan Laut, yang digunakan untuk bertahan dari serangan rudal balistik Iran, akan memaksa kepala Komando Eropa AS memprioritaskan wilayah daratan AS sebagai gantinya."

Departemen Pertahanan AS telah mengonfirmasi persediaan rudal pencegat THAAD kini tersisa kurang dari 300 unit, dan memberikan kontrak senilai US$211 juta kepada Lockheed Martin untuk produksi peluncur sistem THAAD Konfigurasi 3 bagi Uni Emirat Arab dengan target penyelesaian Januari 2031.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed