Konflik Timur Tengah Menjatuhkan Bursa Saham Asia
Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu aksi jual massal oleh investor global yang menyebabkan bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah signifikan pada Senin, 8 Juni 2026.
Sentimen pasar memburuk setelah laporan mengenai peluncuran rudal Iran ke Israel mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko demi mengamankan modal mereka.
Dilansir dari CNBC Indonesia, pergerakan indeks Kospi di Korea Selatan memimpin kejatuhan di kawasan Asia dengan kemerosotan mencapai 8,4 persen pada awal perdagangan.
Koreksi tajam juga melanda indeks Nikkei 225 Jepang yang melemah sebesar 3,4 persen pada pembukaan pasar di hari yang sama.
Tekanan di pasar Asia ini berlanjut setelah bursa saham Korea Selatan pada akhir pekan sebelumnya juga dilaporkan ambles lebih dari 5 persen oleh CNBC.
Data pasar menunjukkan indeks Kospi menutup sesi perdagangan sebelumnya dengan penurunan 5,54 persen ke posisi 8.160,59 akibat kejatuhan saham teknologi di Wall Street.
Saham raksasa teknologi Korea Selatan seperti Samsung Electronics turun 6,40 persen dan SK Hynix anjlok 9,92 persen, sementara indeks Kosdaq melemah 4,50 persen.
Pelemahan pasar saham regional juga menjalar ke beberapa bursa lain di kawasan Asia-Pasifik pada sesi perdagangan sebelumnya.
Indeks Nikkei 225 Jepang sempat turun 1,31 persen ke level 66.588,12, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia merosot 0,70 persen ke posisi 8.625,10.
Di wilayah Tiongkok, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,11 persen pada jam terakhir perdagangan, sementara indeks CSI 300 turun 1,79 persen menuju 4,816.92.
Kondisi berbeda terjadi di Asia Selatan dengan indeks Nifty 50 India yang bergerak mendatar dalam perdagangan yang fluktuatif, serta indeks BSE Sensex yang bergerak stabil.
Sentimen negatif global diperparah oleh kinerja Wall Street pada akhir pekan ketika Nasdaq Composite anjlok 4,18 persen yang menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Selain itu, indeks S&P 500 terkoreksi 2,64 persen dan Dow Jones Industrial Average kehilangan hampir 700 poin setelah data ketenagakerjaan AS memicu kekhawatiran suku bunga tinggi.
Aksi lepas saham sektor cip global sebelumnya juga dipicu oleh pendapatan kuartal kedua fiskal Broadcom yang meleset dari estimasi sehingga sahamnya anjlok lebih dari 12 persen.
Investor di Asia kini terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta menantikan rilis data inflasi konsumen dan produsen Amerika Serikat pekan ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow