Saham BBCA Anjlok ke Rp6.300 Akibat Tekanan Net Sell Asing Rp1.48 Triliun
Aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,48 triliun menekan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) hingga merosot ke level Rp6.300 per saham pada sesi pagi perdagangan Senin, 14 September 2026 di Bursa Efek Indonesia.
Koreksi sebesar 0,40 persen pada awal pekan ini melanjutkan tren penurunan IHSG dan saham BBCA yang sebelumnya sudah terdepresiasi hingga 5,60 persen sepanjang periode 7 sampai 11 September 2026.
Berdasarkan data perdagangan harian Stockbit dan CNBC Indonesia, BBCA menjadi emiten dengan volume pelepasan portofolio asing terbesar di pasar reguler, di mana tekanan jual harian pada Jumat, 11 September 2026 saja mencapai Rp526,25 miliar.
Pelepasan saham perbankan berkapitalisasi besar ini terjadi secara intensif setelah enam pekan berturut-turut mencatatkan akumulasi arus modal masuk dari pemodal internasional.
Selain BBCA, aksi jual asing sepekan senilai total Rp3,36 triliun juga meluas ke emiten lain seperti PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) sebesar Rp1,25 triliun serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp356,3 miliar.
Meskipun harga saham perseroan tertekan di pasar sekunder, struktur kepemilikan saham pengendali BCA dari Grup Djarum dilaporkan tidak mengalami perubahan.
Data keterbukaan informasi per 31 Agustus 2026 mencatat PT Dwimuria Investama Andalan masih menggenggam 67,73 miliar lembar saham atau setara 54,942 persen, disusul PT Caturguwiratna Sumapala sebesar 1,02 persen dan PT Tricipta Mandhala Gumilang sebesar 1,07 persen.
Analis dari KB Valbury Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga mencapai Rp9.480 per saham, mempertimbangkan estimasi rasio Price to Book Value (P/B) tahun 2026 sebesar 3,8 kali.
Potensi pemulihan kinerja saham BBCA dinilai didukung oleh ruang pertumbuhan kredit yang solid serta peluang penurunan biaya pencadangan aset, kendati risik kenaikan biaya pendanaan dan fluktuasi nilai tukar rupiah tetap harus diwaspadai.
Pergerakan IHSG dan sektor keuangan pada pertengahan September 2026 ini juga masih dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel serta ketidakpastian proyeksi suku bunga acuan The Fed.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow