Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah Menjadi 105 Orang
Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kenaikan menjadi 105 orang. Bencana alam ini secara keseluruhan telah memengaruhi kehidupan sebanyak 1.917.732 penduduk setempat, sebagaimana dilansir dari Detik Health.
Selain korban jiwa, fasilitas kesehatan mencatat 1.247 warga mengalami luka ringan atau menjalani rawat jalan, sementara 385 orang menderita luka berat dan harus dirawat inap. Jumlah warga yang mengungsi akibat kerusakan bangunan diperkirakan telah menembus angka 185 ribu jiwa.
Sejumlah wilayah kabupaten yang mencatatkan kasus kematian akibat bencana ini meliputi Kabupaten Nagekeo sebanyak 13 orang, Kabupaten Manggarai 41 orang, dan Kabupaten Manggarai Timur 36 orang. Wilayah lain yang juga mencatat korban jiwa adalah Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1 orang, Kabupaten Sikka 6 orang, serta Kabupaten Ngada 5 orang.
Kementerian Kesehatan terus berupaya memulihkan operasional fasilitas kesehatan yang terdampak di lokasi bencana. Berdasarkan data penanganan medis per 25 Agustus 2016, sebanyak 11 pasien masuk kategori merah atau gawat darurat kritis namun dapat ditangani di rumah sakit setempat. Selain itu, terdapat 55 pasien berkategori kuning atau darurat stabil.
"Tadi pagi, korban meninggal 105 orang, luka ringan/rawat jalan kurang lebih 1.247 orang, luka berat/rawat inap mencapai 385 orang, pengungsi juga 185 ribu lebih," kata Agus Jamaludin, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI pada konferensi pers, Rabu (26/8/2026).
Penanganan pascabencana juga menyoroti potensi penyebaran wabah penyakit di area pengungsian. Selama rentang waktu 15 hingga 25 Agustus, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi masalah kesehatan paling mendominasi yang menyebar di tujuh kabupaten.
"Yang hijau 11, yang hitam ya meninggal 1 orang. Jadi totalnya 78 orang ini data per 25 Agustus 2016," kata Agus Jamaludin, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Tim medis di lapangan telah mendata sebanyak 9.668 kasus ISPA yang menyerang para pengungsi. Gangguan kesehatan lain yang terdeteksi antara lain hipertensi sebanyak 4.686 kasus, myalgia 1.017 kasus, trauma 662 kasus, diare atau GEA 627 kasus, gastritis 571 kasus, dispepsia 487 kasus, serta penanganan 35 kasus gigitan hewan penular rabies.
"Yang paling banyak adalah ISPA mencapai 9.668 kasus," kata Agus Jamaludin, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow