KTT BRICS 2026 Uji Konsensus di Tengah Konflik Iran-UEA

Smallest Font
Largest Font

New Delhi akan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-18 pada 12–13 September 2026, namun perpecahan antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) mengancam upaya 11 negara anggota untuk menghasilkan deklarasi bersama. Konflik tersebut, yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, mengganggu perdagangan minyak melalui Selat Hormuz dan mendorong harga minyak mentah menembus USD100 per barel.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengakui perbedaan antara Iran dan UEA berdampak negatif terhadap penyusunan deklarasi bersama.

"Perbedaan antara Iran dan UEA memberikan dampak negatif terhadap upaya menyusun deklarasi bersama," ujar Dmitry Peskov.

Meskipun demikian, Peskov menyatakan masih ada harapan para pemimpin BRICS dapat menemukan rumusan yang diterima semua anggota. India, sebagai tuan rumah, berupaya merumuskan bahasa yang menekankan prinsip umum seperti larangan agresi dan penghormatan terhadap Piagam PBB, tanpa menyalahkan negara tertentu.

Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di New Delhi, Jumat (11/9/2026), untuk menghadiri KTT BRICS. Ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela acara. Kunjungan Xi menandai lawatan pertamanya ke India sejak 2019, momentum yang dinilai penting untuk mencairkan hubungan China-India setelah ketegangan di perbatasan Himalaya.

Analis Observer Research Foundation India, Harsh V. Pant, menilai konflik di Teluk akan menjadi titik perpecahan utama dalam KTT BRICS kali ini.

"Konflik Teluk akan menjadi titik perpecahan utama dalam KTT BRICS kali ini," ujar Harsh V. Pant.

Sementara itu, analis Capital Economics Shilan Shah menyatakan perang di Iran akan menjadi ujian berat bagi kekompakan BRICS, mengingat para menteri luar negeri BRICS sebelumnya gagal mencapai kesepakatan soal pernyataan bersama.

Pakar Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai keberhasilan Indonesia dalam BRICS dapat diukur dari peningkatan manfaat ekonomi dan pengaruh diplomatik, termasuk kontrak perdagangan dan investasi dengan negara anggota.

"Meningkatnya kontrak perdagangan dan investasi antara RI dengan negara-negara yang telah lebih awal menjadi anggota BRICS, sehingga berkontribusi bagi kenaikan GNP secara kolektif," ujar Teuku Rezasyah.

Xi Jinping, yang sebelumnya menghadiri KTT SCO di Bishkek, Kirgistan, diperkirakan akan mengemukakan gagasan lebih lanjut mengenai kerja sama Global South pada KTT BRICS. Ia menyebut BRICS berada di garis depan Global South dan mendorong pembangunan serta kebangkitan negara-negara berkembang.

"Tiongkok secara konsisten telah memberikan visi dan momentum yang jelas bagi BRICS dan SCO, baik secara konseptual maupun dalam praktik," ujar Humphrey Arnaldo Russel, kepala Pusat Studi ASEAN-Tiongkok di Universitas Indonesia.

"Langkah tersebut telah mengubah BRICS dari sebuah kelompok yang relatif eksklusif menjadi platform kerja sama yang lebih luas di antara negara-negara berkembang dan Global South secara lebih luas," imbuhnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed