KTT BRICS Sepakati Deklarasi New Delhi Tekankan Beasiswa dan Riset

Smallest Font
Largest Font

Negara-negara anggota BRICS secara resmi mengadopsi Deklarasi New Delhi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026), untuk memperkuat kerja sama sektor pendidikan, riset, dan pertukaran sumber daya manusia. Pertemuan yang dihadiri Presiden Indonesia Prabowo Subianto tersebut menyatukan kesepakatan antara Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia, seperti dilansir dari Detikcom. Pemerintah India menilai hasil kesepakatan ini memegang peran strategis dalam membangun kemitraan internasional, khususnya terkait riset dan teknologi publik.

"Di bawah pilar inovasi: inisiatif untuk mempromosikan teknologi, penelitian, dan kewirausahaan, termasuk kerja sama pada infrastruktur publik digital, Repositori Sains dan Penelitian BRICS," ujar Sekretaris Hubungan Ekonomi Kementerian Luar Negeri India (MEA) Shri Sudhakar Dalela usai agenda pertemuan pemimpin tertinggi negara-negara BRICS, Sabtu (12/9/2026).

Dalam dokumen deklarasi tersebut, sektor pendidikan menjadi salah satu prioritas utama melalui pemberian program beasiswa serta penguatan kapasitas institusi pendidikan tinggi di tingkat sarjana maupun pascasarjana. "Kami juga mendorong upaya kolaboratif untuk meningkatkan tata kelola institusi, meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, serta mempromosikan program pertukaran dan beasiswa pada tingkat sarjana dan pascasarjana, termasuk di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM)," tulis poin dalam deklarasi tersebut.

Skema penguatan pertukaran pengetahuan dan inovasi ini ditujukan untuk membekali generasi muda, periset, dan lembaga akademis dalam menghadapi tantangan global. "Kami mendorong kerja sama lebih lanjut di antara pemuda dari negara-negara BRICS dalam bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Keterampilan; Kewirausahaan Pemuda; Sains, Teknologi, dan Inovasi; serta Partisipasi Sosial dan Budaya," lanjut poin tersebut.

Selain menyasar jenjang perguruan tinggi melalui BRICS Network University, deklarasi ini turut mencakup pertukaran praktik baik dalam pengasuhan anak usia dini hingga pemanfaatan teknologi baru secara etis. "Kami mendorong pertukaran praktik terbaik, kerja sama dalam Pengasuhan dan Pendidikan Anak Dini Usia (Early Childhood Care and Education / ECCE) serta Literasi dan Numerasi Dasar (Foundational Literacy and Numeracy / FLN), pengakuan kesetaraan kualifikasi, mobilitas akademis dan profesional, literasi digital, penggunaan teknologi baru-termasuk Kecerdasan Buatan (Al) -dalam pendidikan secara aman, etis, dan berpusat pada manusia, serta kemitraan institusional yang lebih kuat," tulis keterangan dalam deklarasi. Dukungan terhadap infrastruktur riset bersama juga disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang membuka fasilitas laboratorium unggulan bagi para peneliti dari seluruh negara anggota BRICS.

"Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret," kata Kepala BRIN Arif Satria saat menghadiri The 14th BRICS Science, Technology and Innovation (STI) Ministerial Meeting di Chennai, India, Jumat (21/8/2026), dikutip Sabtu (12/9/2026).

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed