Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS pada Akhir Pekan

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp18.065 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data terkini pada hari Sabtu, 11 Juli 2026, mata uang Garuda berhasil mencatat kenaikan harian di tengah tekanan eksternal yang kuat.

Meskipun mengalami penguatan harian, posisi rupiah sepanjang pekan ini sebenarnya masih menunjukkan tren melemah. Sentimen domestik terkait peringkat utang dan defisit perdagangan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang dalam beberapa waktu terakhir.

Penguatan rupiah di pasar spot tercatat sebesar 0,35 persen secara harian jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Pergerakan positif ini sedikit memberikan angin segar bagi pasar keuangan domestik setelah mengalami tekanan berturut-turut.

Kondisi serupa juga terjadi pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs Jisdor ditutup menguat 0,11 persen secara harian menuju level Rp18.069 per dolar AS pada sesi penutupan perdagangan akhir pekan.

Perbandingan Kinerja Nilai Tukar dalam Sepekan

Apabila ditarik garis dalam jangka waktu satu minggu, rupiah sebenarnya masih membukukan rapor merah. Di pasar spot, mata uang rupiah melemah sebesar 0,56 persen dari posisi pekan lalu yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.

Sementara itu, data kurs Jisdor Bank Indonesia juga memperlihatkan pelemahan sebesar 0,60 persen dalam sepekan terakhir. Pada akhir pekan sebelumnya, kurs referensi bank sentral tersebut masih bertengger di level Rp17.960 per dolar AS.

Berikut adalah perbandingan data nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdasarkan sektor perdagangan pasar spot dan Jisdor Bank Indonesia:

Tabel Perbandingan Kurs Dolar AS terhadap Rupiah Akhir Pekan
Sektor PasarNilai Akhir Pekan Ini (10-11 Juli)Nilai Akhir Pekan Lalu (3 Juli)Perubahan Sepekan
Pasar SpotRp18.065Rp17.963Melemah 0,56%
Jisdor Bank IndonesiaRp18.069Rp17.960Melemah 0,60%
Rupiah Bergerak ke Level Rp18.015 per Dolar AS | METRO TV

Faktor Domestik dan Sentimen Global yang Mempengaruhi Rupiah

Pelemahan rupiah dalam sepekan ini tidak terlepas dari sejumlah rilis data ekonomi domestik yang direspon negatif oleh pasar. Salah satunya adalah laporan dari lembaga pemeringkat internasional terkait profil risiko kredit Indonesia.

Lembaga Fitch Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB, namun mereka merevisi prospek (outlook) menjadi negatif. Langkah ini memicu kekhawatiran pelaku pasar keuangan terhadap stabilitas ekonomi jangka panjang.

Dampak Defisit Neraca Perdagangan

Selain peringkat utang, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh rilis data neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik (BPS). BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar.

Defisit perdagangan tersebut sekaligus mengakhiri tren surplus mendalam yang sempat bertahan selama 72 bulan berturut-turut. Berhentinya tren surplus ini menjadi sinyal berkurangnya pasokan valuta asing di dalam negeri.

Analisis Pakar Mengenai Tata Kelola Ekonomi

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa pergerakan rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Dari sisi internal, pasar memberikan penilaian terhadap laporan risiko makro.

"Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi."

Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa tekanan yang berlangsung secara berkepanjangan berisiko meningkatkan jumlah utang luar negeri. Kondisi tersebut juga berpotensi menaikkan biaya pinjaman pemerintah serta memperbesar risiko penurunan peringkat utang ke depan.

Perkembangan Pasar Keuangan Global dan Aset Kripto

Di saat rupiah berfluktuasi, pergerakan mata uang regional seperti Won Korea Selatan justru terpantau melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar 1 dolar AS dilaporkan setara dengan 1.502,40 Won Korea berdasarkan pengumuman resmi Hana Bank, turun 0,31 persen.

Di sisi lain, aset alternatif seperti Bitcoin justru menunjukkan performa positif di zona hijau pada hari Sabtu, 11 Juli 2026 pagi. Harga Bitcoin naik 1,41 persen dalam 24 jam terakhir ke angka 64.126,61 dolar AS, atau setara Rp1,15 miliar dengan asumsi kurs spot rupiah.

Kenaikan harga Bitcoin ini didorong oleh aksi short squeeze di pasar derivatif yang melikuidasi taruhan bearish senilai 96 juta dolar AS. Kapitalisasi pasar Bitcoin kini kokoh bertengger di angka 1,28 triliun dolar AS.

Harga komoditas dan nilai tukar mata uang dapat berfluktuasi sewaktu-waktu secara dinamis. Berbelanja dan bertransaksi dengan bijak serta pantau informasi harga resmi dari Bank Indonesia dan pemerintah.

Bank Indonesia diperkirakan terus memantau perkembangan pasar keuangan global guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah intervensi di pasar valuta asing dan pasar domestik siap dijalankan untuk memitigasi volatilitas rupiah yang terlalu tajam.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed