Rupiah Menguat 1,56 Persen di Akhir Agustus Didukung Pelemahan Dolar AS
Nilai tukar rupiah menguat 1,56 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Agustus 2026, menutup perdagangan terakhir bulan itu di level Rp17.710 per dolar AS, menurut CNBC Indonesia.
Penguatan ini menjadi apresiasi bulanan pertama rupiah sejak Februari 2026 dan merupakan yang terkuat sejak Mei 2025.
Pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,49 persen sepanjang Agustus menjadi faktor utama yang memberi ruang bagi rupiah untuk menguat setelah sebelumnya sempat tertekan di sekitar Rp18.000 per dolar AS.
Dolar AS tertekan oleh data tenaga kerja AS yang jauh lebih lemah dari perkiraan, dengan nonfarm payrolls Juli 2026 turun 23.000 pekerjaan, jauh dari ekspektasi penambahan 80.000 pekerjaan, serta revisi turun total 103.000 pekerjaan untuk Mei dan Juni.
Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September menjadi 44 persen dari 57 persen juga mendukung pelemahan dolar AS.
Namun, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada akhir Agustus memberi sinyal bahwa inflasi AS masih menjadi perhatian, sehingga peluang kenaikan suku bunga masih terbuka, menyebabkan dolar AS sempat menguat menjelang penutupan Agustus.
Sentimen lain yang menekan dolar AS berasal dari rencana pemerintah AS menggandakan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintah bertenor panjang menjadi US$4 miliar per operasi mulai September 2026, yang menimbulkan kekhawatiran pasar terkait fiskal dan utang negara AS yang menembus US$40 triliun.
Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang mereda juga mengurangi minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman sehingga turut membuka ruang bagi rupiah dan mata uang Asia lain untuk menguat.
Dari sisi domestik, kepastian arah kepemimpinan Bank Indonesia menjadi faktor positif. Setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada Juli 2026, Destry Damayanti ditetapkan sebagai Pejabat Sementara dan kemudian disetujui sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 oleh Komisi XI DPR pada akhir Agustus.
Kepastian ini penting karena berkaitan langsung dengan arah kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, dan pengelolaan inflasi.
Selain itu, perbaikan defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal II-2026 dari sekitar US$9 miliar menjadi sekitar US$0,9 miliar menunjukkan tekanan eksternal mulai mereda dan mendukung rupiah.
Rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang mencapai 5,29 persen juga menjadi sentimen positif bagi rupiah.
Pada perdagangan Selasa (1/9), rupiah dibuka menguat tipis di level Rp17.715 per dolar AS, didorong oleh koreksi dolar AS dan menunggu data inflasi serta perdagangan Indonesia, menurut analis Lukman Leong dari Doo Financial.
Lukman menjelaskan, investor cenderung menunggu data inflasi yang diperkirakan naik menjadi 3,13 persen dari 2,88 persen serta data perdagangan yang diperkirakan menunjukkan defisit sekitar US$300 juta akibat lonjakan impor dari harga minyak mentah yang tinggi.
Dolar AS secara umum melemah terhadap beberapa mata uang utama, meskipun dalam beberapa kasus seperti terhadap yen, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss, dolar AS tercatat menguat tipis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow