Laba Bersih BNI Tumbuh 6 Persen Mencapai Rp 12 koma 5 Triliun
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan laba bersih kumulatif bank only sebesar Rp12,5 triliun hingga Juli 2026, tumbuh 6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pencapaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit yang tetap solid meski perseroan menghadapi tekanan kenaikan biaya dana.
Realisasi laba bersih dalam tujuh bulan pertama tahun 2026 tersebut setara dengan 59 persen hingga 60 persen dari estimasi konsensus dan target setahun penuh sejumlah lembaga sekuritas. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNI tercatat naik 14 persen yoy menjadi Rp25,3 triliun, didukung ekspansi kredit yang tumbuh 27 persen yoy mencapai kisaran Rp970 triliun.
Secara bulanan, laba bersih BNI pada Juli 2026 tercatat sebesar Rp1,6 triliun, mengalami penurunan 6 persen yoy dan 13 persen secara bulanan (month on month/mom). Penurunan tersebut terutama dipicu oleh lonjakan beban pajak yang naik 97 persen yoy serta peningkatan biaya dana (cost of fund/CoF) menjadi 3,2 persen, yang mengikis margin bunga bersih (net interest margin/NIM) ke level 3,3 persen hingga 3,4 persen.
Meskipun NIM tertekan akibat pengetatan likuiditas industri perbankan, kinerja pre-provision operating profit (PPOP) BNI secara akumulasi 7M26 masih tumbuh 14 persen yoy menjadi Rp20,9 triliun. Penurunan biaya pencadangan pada Juli 2026 juga memberikan bantalan terhadap profitabilitas, dengan beban risiko kredit (cost of credit/CoC) melandai ke posisi 0,8 persen pada bulan tersebut.
Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah tumbuh 29 persen yoy, digerakkan oleh lonjakan deposito berjangka sebesar 50 persen yoy. Hal ini menyebabkan porsi dana murah (CASA) tertekan menjadi 66 persen, sementara loan to deposit ratio (LDR) perseroan berada di level 85,5 persen.
Analis BRI Danareksa Sekuritas memberikan penilaian terhadap dinamika kinerja keuangan emiten perbankan BUMN tersebut.
"Kenaikan CoF perlu dipantau karena telah mencapai level tertinggi sepanjang tahun berjalan dan sudah melampaui level tahun 2025," kata Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Di pasar modal, saham BBNI ditutup pada level Rp3.730 pada perdagangan Jumat (21/8/2026) dengan aksi beli bersih investor asing mencapai Rp113,14 miliar. Sejumlah sekuritas seperti CGS International Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan BRI Danareksa Sekuritas tetap menyematkan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga berkisar antara Rp3.800 hingga Rp4.800 per saham.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow