Laba Bersih PT Vale Indonesia Melonjak 313 Persen pada Semester I 2026
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengantongi laba bersih mencapai US$104,38 juta atau setara Rp1,89 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut mencatatkan lonjakan hingga 313,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$25,25 juta.
Pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ditopang oleh kenaikan pendapatan operasional dan peningkatan margin laba kotor. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, total pendapatan Vale Indonesia naik 27,3 persen dari US$426,74 juta menjadi US$543,07 juta per 30 Juni 2026.
Di saat bersamaan, beban pokok pendapatan berhasil ditekan sebesar 1,5 persen menjadi US$390,78 juta dari sebelumnya US$396,58 juta. Pengendalian biaya ini mendongkrak margin laba kotor perseroan secara signifikan dari 7,1 persen pada semester I 2025 menjadi 28 persen pada semester I 2026.
Penjualan bijih nikel menjadi kontributor utama pertumbuhan pendapatan dengan nilai mencapai US$142 juta, menyumbang 26 persen dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari segmen nikel matte mengalami penurunan sebesar 5 persen secara tahunan akibat penyusutan volume penjualan sebesar 21 persen menjadi 27.659 ton.
Meskipun volume penjualan nikel matte menurun, perseroan mendapat dukungan dari harga jual rata-rata (ASP) nikel matte yang meningkat 21 persen menjadi US$14.491 per ton. Efisiensi operasional juga mendorong laba usaha meroket hingga 2.056,6 persen menjadi US$134,14 juta dari sebelumnya US$6,22 juta.
Dari sisi produksi, total output nikel dalam matte selama paruh pertama tahun ini tercatat sebesar 29.773 metrik ton, atau turun 16,3 persen dari periode yang sama tahun 2025. Namun, pemulihan operasional mulai terlihat pada kuartal II 2026 dengan volume produksi naik 19 persen secara kuartalan menjadi 16.153 ton seiring rampungnya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026.
Perseroan mencatat kenaikan biaya energi akibat gejolak geopolitik global yang meningkatkan harga rata-rata High Sulfur Fuel Oil (HSFO) sebesar 25 persen, diesel 40 persen, dan batu bara 12 persen. Meskipun demikian, biaya tunai pokok penjualan nikel matte berhasil ditekan menjadi US$10.005 per ton pada kuartal II 2026 dari kuartal sebelumnya sebesar US$10.382 per ton.
Selain efisiensi operasional, PT Vale Indonesia terus mendorong percepatan proyek strategis nasional di sektor hilirisasi nikel, termasuk proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Morowali.
"Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," kata Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale.
Untuk mendukung proyek ekspansi tersebut, perseroan merealisasikan belanja modal sekitar US$116 juta pada kuartal II 2026. Aktivitas investasi tersebut menyebab saldo kas dan setara kas perseroan terkoreksi menjadi US$110,66 juta per akhir Juni 2026.
Hingga paruh pertama 2026, total aset PT Vale Indonesia tercatat stabil di angka US$3,38 miliar dengan total ekuitas sebesar US$2,83 miliar. Rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio/DER) berada di level rendah 0,19 kali, mencerminkan struktur pendanaan perusahaan yang solid.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow