Letusan Super Toba 74 Ribu Tahun Lalu Pengaruhi Migrasi dan Genetika Manusia

Smallest Font
Largest Font

Sekitar 74.000 tahun yang lalu, Homo sapiens menghadapi ancaman kepunahan serius yang diperkirakan membuat populasi manusia menyusut drastis. Studi menunjukkan hanya beberapa ribu individu yang berhasil bertahan dari masa sulit ini, yang diduga terkait dengan letusan gunung super besar di kawasan yang kini menjadi Danau Toba, Sumatera Utara.

Catatan geologis mencatat letusan dahsyat ini melepaskan sekitar 2.000 kilometer kubik material vulkanik ke atmosfer selama sembilan hingga empat belas hari. Dampaknya sangat besar, dengan debu vulkanik menutupi langit dan menghalangi sinar Matahari, sehingga memicu periode pendinginan global yang dikenal sebagai Zaman Es mini.

Penurunan suhu rata-rata dunia diperkirakan mencapai 2,3 hingga 4,1 derajat Celsius. Kondisi ekstrim ini menyebabkan kelangkaan pangan dan perubahan lingkungan yang drastis, memaksa manusia purba beradaptasi untuk bertahan hidup.

Bukti arkeologis di Afrika, khususnya di wilayah Tanduk Afrika, menunjukkan adanya peningkatan inovasi manusia. Di situs-situs tersebut ditemukan peralatan batu yang lebih canggih, tanda pertama penggunaan panah, serta aktivitas memasak yang berkembang sekitar waktu letusan Toba terjadi.

Studi terbaru tahun 2024 menguatkan hubungan antara manusia dan letusan ini dengan ditemukannya fragmen kaca vulkanik di sedimen situs arkeologi yang secara kimiawi cocok dengan material dari letusan Toba.

Peristiwa ini juga diduga memengaruhi pola migrasi manusia purba. Alih-alih hanya mengikuti koridor hijau saat musim lembap, manusia mulai menggunakan jalur sungai musiman atau "jalan raya biru" yang menyediakan sumber air dan makanan lebih stabil di periode kering.

Menurut John Kappelman, profesor dari University of Texas di Austin, perubahan ini mungkin memaksa manusia purba berpindah ke sumber air baru demi kelangsungan hidup mereka.

Selain itu, letusan dan masa sulit ini kemungkinan berdampak pada genetika manusia modern. Penelitian sejak 1972 menunjukkan adanya penyempitan genetik, di mana keanekaragaman protein hemoglobin manusia sangat rendah akibat populasi yang menyusut drastis menjadi antara 3.000 hingga 10.000 individu.

Hipotesis sebelumnya mengaitkan penyempitan genetik ini dengan letusan Toba dan musim dingin vulkanik yang dihasilkannya, menunjukkan tekanan seleksi yang sangat kuat pada populasi manusia kala itu.

Namun, tidak semua ilmuwan sepakat dengan teori ini. Beberapa peneliti menolak gagasan bahwa letusan Toba menyebabkan musim dingin vulkanik yang ekstrem dan menganggap penyempitan genetik mungkin disebabkan oleh faktor lain.

Bukti dari situs arkeologi Afrika dan Asia juga menunjukkan beberapa populasi hominin bertahan dengan stabil sebelum dan sesudah letusan, menandakan dampaknya tidak merata pada seluruh populasi manusia purba.

Analisis DNA mamalia dari berbagai benua pada tahun 2020 menambahkan kompleksitas, dengan hanya beberapa spesies yang mengalami ekspansi populasi bersamaan dengan letusan Toba, sementara yang lain tidak terpengaruh secara signifikan.

Masih menjadi misteri apa yang sebenarnya memicu penyempitan genetik Homo sapiens jika bukan letusan super Toba. Beberapa ilmuwan mengajukan kemungkinan peristiwa penyempitan populasi serupa terjadi jauh sebelumnya, sekitar 930.000 hingga 813.000 tahun lalu, walaupun teori ini juga masih kontroversial.

Informasi ini dikutip dari Detik iNET yang merangkum hasil berbagai studi ilmiah terkini mengenai dampak letusan super Toba terhadap evolusi dan penyebaran manusia purba.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed