Longsor Batuan dan Gletser Picu Banjir Dahsyat Perbatasan Nepal-China

Smallest Font
Largest Font

Bencana banjir dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu waktu setempat hingga menewaskan ratusan orang serta menyebabkan ratusan warga lokal maupun peziarah asing hilang, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Analisis citra satelit awal sempat terhalang awan dan debu material reruntuhan di puncak Langtang Lirung. Namun, pengamatan lanjutan mengonfirmasi terjadinya keruntuhan batuan dasar yang meruntuhkan bongkahan es gletser raksasa ke dasar lembah.

Pakar geomorfologi University of Calgary, Dan Shugar, memaparkan hasil analisis visualnya terkait pergerakan material longsoran tersebut di area bencana.

"Citra tersebut memperlihatkan keseluruhan area secara gamblang dan kami bisa melihat bahwa tampaknya bukan gletser ini saja yang runtuh, melainkan bongkahan batuan dasar yang jauh lebih besar dari lereng gunung itu sendiri ikut longsor," kata Dan Shugar.

Ia menambahkan bahwa hempasan material tersebut menimbulkan dampak kehancuran yang sangat besar bagi pemukiman warga di kawasan hilir.

"Terjadi keruntuhan batuan dasar yang masif, yang turut menyeret sebagian dari gletser tersebut," ujar Dan Shugar.

Shugar membeberkan bahwa sapuan material reruntuhan terlihat mengubur desa-desa di sepanjang aliran longsoran.

Meluncurnya puing material yang melintasi lembah curam berbarengan dengan mencairnya es menciptakan gelombang lumpur setinggi beberapa lantai. Dampaknya, Sungai Trishuli meluap dan mengalami perubahan warna air menjadi cokelat pekat akibat tingginya kandungan sedimen.

Kerusakan parah melanda wilayah Kolpurtar, Betrawati, hingga Syapru Besi yang merupakan pusat awal jalur pendakian Langtang. Luapan air dan lumpur bahkan memicu arus balik pada anak sungai serta menenggelamkan sebagian besar bangunan pemukiman.

Pakar geografi pegunungan dari University of Colorado di Boulder, Alton Byers, memberikan pandangannya mengenai keparahan bencana ini berdasarkan pengalamannya meneliti di Nepal.

"Bagi saya, semua indikatornya mengarah pada dampak tren pemanasan. Dalam kasus ini, permafrost yang ribuan tahun berfungsi mengikat bebatuan, es, tanah, dan gletser di dataran tinggi kini makin melemah dan menjadi tidak stabil," kata Alton Byers.

Kerusakan lingkungan akibat fenomena pencairan permafrost dan gletser yang dipicu perubahan iklim ini diperkirakan membutuhkan waktu pemulihan hingga bertahun-tahun.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed