LPS Ungkap Literasi Keuangan Lampung Lebih Tinggi dari Nasional
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan indeks literasi keuangan masyarakat Provinsi Lampung mencapai 72,3%, melebihi rata-rata nasional sebesar 69,6%, sementara indeks inklusi keuangan Lampung baru mencapai 90,9%, masih di bawah angka nasional 93,6%, dilansir dari Detik Finance.
Angka tersebut menunjukkan bahwa warga Lampung sudah cukup memahami layanan keuangan, tetapi penggunaannya masih belum optimal.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, mengatakan, "Di sinilah trust atau kepercayaan menjadi jembatan. Ketika masyarakat paham, merasa aman, dan percaya, mereka akan lebih yakin untuk menggunakan layanan keuangan formal secara berkelanjutan dan lebih optimal."
Menurut Farid, digitalisasi membuka peluang besar dalam pemanfaatan layanan keuangan karena kepemilikan telepon genggam bahkan sudah melebihi jumlah penduduk.
"Generasi muda sangat akrab dengan mobile banking, dompet digital, fintech, dan aplikasi investasi. Ini membuat akses semakin mudah dan edukasi bisa menjangkau masyarakat dengan jauh lebih cepat," ujarnya.
Meski begitu, Farid mengingatkan bahwa tingginya penetrasi teknologi juga membawa berbagai ancaman bagi masyarakat, terutama generasi muda yang dekat dengan ekosistem digital.
"Muncul berbagai jebakan keuangan. Ada pinjol ilegal, ada judi online, adik-adik yang suka belanja ada FOMO, ada YOLO, ada FOPO, serta belanja impulsif dengan insentif diskon dan paylater yang dipicu oleh algoritma digital," paparnya.
Farid kemudian menyampaikan tiga kebiasaan sederhana untuk menjaga kondisi keuangan agar tetap sehat.
"Pertama, membiasakan untuk menyisihkan dana, bukan sisakan. Utamakan menabung sejak kita terima uang," katanya.
"Kedua, biasakan belanja sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Dalam hal ini, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menggunakan berbagai fasilitas belanja yang kian menggoda akibat berbagai promo digital," tambahnya.
Farid menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap pengaruh teknologi dalam pengambilan keputusan keuangan.
"Punya gadget, dan itu hati-hati, karena algoritma AI terus belajar tentang apa yang kita sukai, menggoda kita semua untuk terus membeli. Jangan biarkan teknologi mengendalikan keputusan keuangan kita. Kita harus tetap pegang kendali," ujarnya.
Terakhir, Farid menyarankan membangun tabungan tidak berwujud seperti karakter, ilmu, dan relasi sebagai modal penting dalam kehidupan.
"Karakter dekat dengan modal spiritual, ilmu adalah human capital, dan relasi yang sehat adalah social capital," tutup Farid.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow