Makna Filosofis dan Tradisi Tumpeng dalam Perayaan Kemerdekaan Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Tumpeng memiliki makna lebih dari sekadar nasi berbentuk kerucut dalam tradisi perayaan kemerdekaan Indonesia. Ritual tumpengan yang kerap dijumpai pada 17 Agustus di berbagai daerah, termasuk Istana Negara, menyimpan filosofi dan doa yang mendalam.

Bentuk kerucut pada nasi tumpeng melambangkan gunungan yang merupakan cerminan awal dan akhir kehidupan menurut tradisi Jawa. Simbol ini juga menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan, menandai perjalanan dari Tuhan kembali kepada-Nya.

Menurut Ria Musiawan, Ketua Umum Indonesia Gastronomy Community, istilah tumpeng berasal dari akronim "Yen metu kudu mempeng" yang mengandung pesan agar manusia menjalani hidup dengan sungguh-sungguh dan menjaga hubungan dengan Tuhan.

Puncak tumpeng yang berbentuk lancip diyakini melambangkan puncak gunung, tempat bersemayamnya dewa serta arwah leluhur. Bentuk ini menjadi lambang hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan.

Tumpeng juga sering menjadi simbol ungkapan rasa syukur pada berbagai acara penting, khususnya di Istana Negara yang mewakili rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Prosesi pemotongan tumpeng oleh presiden mengandung makna hubungan antara Tuhan, pemerintah, dan rakyat.

Peran Tumpeng dalam Momen Kebersamaan Pemimpin

Di Istana Negara, pemotongan tumpeng tidak hanya dihadiri oleh presiden dan wakil presiden saat ini, tetapi juga mantan pemimpin negara. Sejak 2018, Presiden Joko Widodo selalu didampingi para tokoh nasional dalam acara ini, termasuk veteran dan tokoh penting lainnya sebagai bentuk penghormatan dan syukur atas kemerdekaan.

Prosedur Tradisi Potong Tumpeng di Istana

Tradisi ini biasanya berlangsung setelah upacara detik-detik Proklamasi pada pagi hari. Tumpeng yang telah disiapkan sejak pagi hari akan dipotong setelah presiden dan tamu undangan berkumpul serta berdoa bersama di ruangan khusus.

Cara Tradisional Memotong Tumpeng

Berbeda dengan anggapan umum yang memotong dari puncak, tradisi Jawa mengajarkan bahwa tumpeng tidak boleh dipotong dari puncaknya. Pemotongan dilakukan dengan menggali bagian bawah hingga tumpeng roboh, karena puncak tumpeng dianggap sebagai tempat bersemayam Sang Pencipta. Memotong puncak dianggap memutus hubungan manusia dengan Tuhan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed