Pemerintah Malaysia Batasi Penggunaan Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun

Smallest Font
Largest Font

Menteri Komunikasi Malaysia Datuk Fahmi Fadzil memberlakukan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun. Langkah tersebut diambil guna melindungi kelompok usia muda dari berbagai risiko serta bahaya yang mengintai di ranah siber.

Kebijakan pengetatan ini diperkuat melalui kerangka kerja Akta Keselamatan Dalam Talian 2024. Regulasi tersebut memberikan kewenangan lebih besar kepada pihak berwenang untuk menindak konten berbahaya serta mewajibkan platform digital bertanggung jawab secara independen.

Selain itu, Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) memperluas pengawasan terhadap platform besar. MCMC menerapkan sistem lisensi bagi penyedia layanan media sosial dan pesan instan yang beroperasi melebihi ambang batas jumlah pengguna tertentu.

Presiden Asosiasi Kesehatan Mental Malaysia (MMHA), Prof Datuk Dr Andrew Mohanraj mendukung penuh regulasi usia minimum tersebut. Menurutnya, penetapan batas usia berpotensi memberikan dampak positif yang besar bagi kondisi psikologis anak.

"Anak-anak di bawah 16 tahun masih mengembangkan regulasi emosional dan pemikiran kritis; oleh karena itu, mereka lebih rentan," kata Andrew.

Andrew menjelaskan bahwa kebijakan pengetatan ini dapat mendorong pola tidur yang lebih baik serta menekan kasus perundungan siber. Pembatasan ini juga meminimalkan paparan konten berbahaya seperti ajakan melukai diri sendiri, pornografi, hingga perjudian.

"Juga, ada pengurangan paparan konten berbahaya yang memiliki elemen mendorong tindakan melukai diri sendiri dan bunuh diri, pornografi, ujaran kebencian, dan perjudian," ujar Andrew.

Dukungan serupa disampaikan Kepala Psikologi University of Nottingham Malaysia, Assoc Prof Dr Chung Kai Li. Ia menilai regulasi tersebut dapat membentengi generasi muda dari risiko depresi, iklan berbahaya, hingga eksploitasi seksual.

"Mungkin juga ada manfaat yang lebih luas, karena pengurangan penggunaan media sosial dapat membebaskan waktu untuk kegiatan yang mendukung perkembangan sehat, seperti tidur yang cukup, aktif secara fisik, dan terlibat dalam interaksi tatap muka dengan teman sebaya dan anggota keluarga," kata Chung.

Kendati demikian, Chung mengingatkan bahwa pemblokiran menyeluruh bukanlah solusi tunggal yang cocok untuk semua situasi. Media sosial masih memiliki sisi positif sebagai sarana interaksi sosial dan ruang ekspresi bagi sebagian remaja.

"Bagi banyak anak muda, ini memberikan peluang untuk koneksi sosial, ekspresi diri, dan akses ke informasi serta dukungan yang mungkin tidak mudah tersedia di lingkungan luring mereka, khususnya bagi mereka yang berasal dari kelompok terpinggirkan," ujar Chung.

Asisten Profesor Sekolah Psikologi University of Nottingham Malaysia, Lee Eun Hee menyoroti dampak tak terduga bagi anak yang bergantung pada media sosial untuk dukungan emosional. Ia menyarankan agar interaksi anak tidak diawasi secara berlebihan hingga merampas privasi mereka.

"Pendekatan yang lebih baik adalah agar orang tua dan guru tetap terlibat melalui perhatian yang penuh kasih sayang, komunikasi terbuka, dan interaksi teratur, sambil menciptakan lingkungan yang mendukung di mana kaum muda merasa nyaman mendiskusikan dengan siapa mereka berkomunikasi secara daring, menyampaikan kekhawatiran, dan meminta bantuan," kata Lee.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed