Masyarakat Bisa Pantau Hotspot dan Karhutla Lewat Teknologi Satelit
Pada musim kemarau, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di Indonesia. Masyarakat kini dapat memantau kondisi lingkungan sekitar secara aktif dengan teknologi satelit melalui ponsel. Data hotspot atau titik panas tersedia di beberapa platform resmi yang dapat diakses untuk mengetahui wilayah dengan anomali suhu tinggi.
Informasi ini membantu dalam mengidentifikasi daerah yang perlu perhatian khusus, meski harus diverifikasi lebih lanjut di lapangan. Hotspot adalah lokasi dengan deteksi suhu panas oleh sensor satelit, sedangkan karhutla adalah kejadian kebakaran di hutan atau lahan. Tidak semua hotspot berarti terjadi kebakaran.
Menurut informasi yang dikutip dari Detik iNET, terdapat beberapa layanan yang dapat digunakan untuk mengecek titik panas dan kebakaran hutan di Indonesia.
1. SiPongi+ Kementerian Kehutanan
SiPongi+ adalah sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan yang menyediakan data hotspot terkini dan informasi kebakaran hutan lainnya. Pengguna dapat melihat persebaran titik panas melalui menu Peta Hotspot dan memilih wilayah yang ingin dipantau.
Tingkat kepercayaan hotspot ditandai dengan warna: hijau (rendah, 0-29%), kuning (sedang, 30-79%), dan merah (tinggi, 80-100%). Meski tingkat kepercayaan tinggi, data ini belum tentu menunjukkan kebakaran yang sedang berlangsung karena perlu verifikasi lapangan dan informasi tambahan.
2. Citra Polar Hotspot BMKG
BMKG menyediakan layanan Citra Polar Hotspot yang menampilkan citra satelit terbaru untuk mendeteksi lokasi hotspot di Indonesia. Pengamatan dilakukan menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar, baik siang maupun malam hari.
Pengguna dapat mencari wilayah yang ingin dipantau dan mengamati persebaran titik panas secara berkala. Namun, hotspot tidak terdeteksi di area tertutup awan atau zona kosong, sehingga tidak munculnya hotspot bukan berarti daerah tersebut bebas dari kebakaran.
3. Google Maps
Selain layanan pemerintah, Google Maps juga menyediakan informasi mengenai kebakaran hutan aktif. Data yang ditampilkan berupa ikon kebakaran atau area berwarna merah yang menunjukkan perkiraan wilayah terdampak kebakaran.
Google Maps menggunakan data dari berbagai sumber termasuk otoritas dan satelit, serta teknologi AI untuk mendeteksi kebakaran. Informasi ini bersifat perkiraan sehingga batas area kebakaran bisa berbeda dengan kondisi di lapangan.
Pentingnya Memahami Data Hotspot
Pemahaman terhadap data hotspot diperlukan agar masyarakat tidak salah menafsirkan titik panas sebagai kebakaran yang pasti terjadi. Hotspot hanya indikasi awal yang perlu dipantau secara berkala melalui sumber resmi dan diverifikasi dengan kondisi lapangan.
Jika masyarakat melihat tanda-tanda api atau asap secara langsung, disarankan untuk tidak mendekati lokasi dan segera melaporkan ke pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow