Mengulik Rumah Pengasingan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok Karawang
Lokasi perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia menyimpan rekam jejak sejarah penting. Seperti dilansir dari Detikcom, Soekarno dan Mohammad Hatta sempat diasingkan ke sebuah rumah di Rengasdengklok, Karawang, oleh kelompok pemuda pada 16 Agustus 1945.
Pengasingan tersebut bertujuan mendesak kedua tokoh bangsa agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Di ruang tamu rumah milik warga Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong itu, perundingan intensif antara Soekarno, Hatta, dan golongan muda berlangsung.
Bangunan bergaya mirip joglo tersebut kini ramai dikunjungi wisatawan menjelang peringatan kemerdekaan. Hunian sederhana di tepi Sungai Citarum ini diprakarsai oleh Djiauw Kie Siong pada dekade 1920-an.
Cucu generasi ketiga Djiauw Kie Siong, Lani, membagikan kisah latar belakang bangunan tersebut. Menurut penjelasannya, hunian lama itu telah berdiri seperempat abad sebelum peristiwa Rengasdengklok terjadi.
"Rumah ini berdiri tahun 1920-an, kalau tanggal, bulan, nggak inget. Jadi sekarang udah berdiri selama 106 tahun," kata Lani saat ditemui di Rengasdengklok, Rabu (12/8/2026).
Ancaman banjir akibat luapan Sungai Citarum sempat mengintai keberadaan struktur bersejarah ini. Pemerintah setempat akhirnya menyarankan agar fisik rumah dipindahkan sekitar 200 meter dari posisi awal demi menghindari erosi.
Lani menuturkan bahwa proses pemindahan dilakukan secara bertahap setelah bencana banjir besar melanda kawasan Rengasdengklok.
"Abis banjir besar tahun 1957, memang kami sih nggak kebanjiran di daerah situ, cuma hampir semua Rengasdengklok kena. Nah setelah banjir, kami dikasih tau kalau bisa rumahnya dipindah daripada kegerus air. Jadi setelah banjir selesai, ya sama kakek dipindah lah (rumahnya)," ujar Lani.
Proses relokasi tersebut menerapkan teknik bongkar pasang secara menyeluruh. Komponen genteng, ubin, pintu, hingga jendela dicopot satu per satu lalu dirakit kembali di lokasi baru.
"Lokasi rumahnya dipindahin ke sini. Rumah dicopot, terus pasangin di sini. Jadi rumahnnya tetap ini, cuma lokasinya aja yang pindah. Kalau sekarang di sana udah jadi (sungai) Citarum," paparnya.
Penyesuaian skala bangunan tidak terelakkan dalam proses relokasi. Luas bangunan mengalami sedikit penyusutan dibandingkan ukuran awal, sementara dinding kayu kamar harus diperbarui akibat lapuk terkena tampias air hujan.
"Kalau bentuknya berubah kan namanya kayu kepotong ya. Kalau luas tanah, di sana lebih luas," ungkap Lani.
Kondisi Dalam Rumah dan Perabotan Otentik
Tata ruang interior rumah tetap mempertahankan jejak tempat beristirahat Dwi-Tunggal. Soekarno menempati area kamar sebelah kanan, sedangkan Hatta menggunakan kamar di sisi kiri.
Kamar Soekarno dihiasi bingkai foto, lemari pakaian, lukisan macan, serta meja kerja. Fasilitas serupa berupa lemari, meja, dan bingkai foto juga mengisi kamar tidur Bung Hatta.
Dua ranjang berkelambu cat hitam di masing-masing kamar memiliki usia yang sangat tua. Lani menegaskan bahwa ranjang tersebut sudah ada sebelum rumah selesai dibangun.
"Ini (kasur) udah 100 tahun lebih. (Sudah ada dari rumah dibangun?) Enggak, dari sebelumnya bahkan. Kan tahun 1920-an rumah ini dibangun, kakek saya (Djiauw Kie Siong) bangun rumah ini pas udah usia 40 tahun," ucap Lani.
Meski tempat tidur dipertahankan keasliannya, perlengkapan seperti bantal, guling, seprai, dan kain kelambu telah diganti menggunakan model yang disesuaikan dengan era masa lalu.
Material asli bangunan seperti genteng tanah liat tua, atap rangka bambu, plafon anyaman, dan lantai tanah liat masih dipertahankan. Beberapa perabot lama seperti kaca ruang tamu, lemari kayu berumur 80 tahun, dan kursi anyaman juga masih terawat.
Berbeda dari objek cagar budaya pada umumnya yang dikelola sebagai museum pemerintah, bangunan bersejarah ini tetap menjadi hunian pribadi. Lani bersama suaminya merawat dan tinggal di rumah tersebut hingga kini.
"Ini masih rumah keluarga, kami masih tinggal di sini dan masih dirawat," pungkas Lani.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow