Menteri LH Instruksikan 6 Gubernur Atasi Karhutla dan Cek Lahan Riau
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat melakukan pengecekan langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kampar, Riau, pada Sabtu, 22 Agustus 2026, guna meninjau penanganan karhutla yang kian memburuk akibat fenomena El Nino.
Langkah peninjauan lapangan ini dilakukan bersama Guru Besar IPB Bambang Hero Saharjo dan Kapolda Riau Irjen Pol Herry Haryawan untuk mengkaji dampak ekologis serta penyebab utama kebakaran melalui pendekatan ilmiah.
Kunjungan tersebut menyusul penerbitan instruksi mendesak dari Kementerian Lingkungan Hidup bagi enam gubernur di wilayah prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, dan Kalimantan Selatan.
Instruksi ini mewajibkan pemerintah daerah memperketat patroli gabungan, memantau tinggi muka air tanah gambut, mengaktifkan posko penanganan, serta memberlakukan sanksi tegas hingga ranah pidana bagi pembakar lahan.
Lonjakan titik api di berbagai wilayah dipicu oleh fenomena El Nino kuat yang berlangsung sejak Juli 2026 sehingga memicu penurunan kualitas udara hingga melampaui baku mutu ambien.
Berdasarkan data pemantauan KLH, konsentrasi PM2,5 mencatatkan angka 48,84 mikrogram per meter kubik di Kampar, 47,39 di Ogan Ilir, 30,16 di Katingan, 26,41 di Pontianak, 26,18 di Kota Jambi, dan 17,40 di Banjarmasin.
Guna meminimalkan dampak kesehatan akibat polusi asap, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker, dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Saat melakukan peninjauan di area terdampak di Kampar, Menteri Lingkungan Hidup menegaskan bahwa penanganan bencana ini tidak cukup hanya berfokus pada upaya pemadaman di lapangan.
"Penanganan karhutla harus kita lakukan dari hulu sampai hilir. Pencegahan, pemadaman, penegakan hukum hingga pemulihan lingkungan harus berjalan bersama. Karena itu kita melihat langsung kondisi di lapangan agar setiap langkah yang diambil berbasis pada data dan fakta," ujar Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.
Dalam kesempatan yang sama, Polda Riau memaparkan pemanfaatan Dashboard Green Policing yang telah mencatat 226.301 pohon dengan potensi penyerapan karbon 4.978,6 ton CO2 per tahun serta memetakan 7.349 titik rawan lingkungan.
Sistem terpadu tersebut dirancang untuk mengintegrasikan data perlindungan lingkungan sekaligus mempercepat respons intervensi terhadap potensi bencana secara terukur.
"Semua kita dorong berbasis data. Berapa pohon yang ditanam, di mana lokasinya, bagaimana sebarannya, sampai berapa besar estimasi karbon yang dapat diserap. Begitu juga dengan karhutla. Kita ingin memiliki sistem yang membantu kita membaca persoalan lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat," kata Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan.
Di sisi lain, upaya penanggulangan karhutla secara teknis terus dimaksimalkan melalui jalur udara dan darat di seluruh wilayah terdampak di Provinsi Riau.
BPBD Riau melaporkan Operasi Modifikasi Cuaca yang telah berjalan selama 21 hari dengan menyemai 26.000 kilogram garam NaCl menggunakan pesawat Cessna berhasil menurunkan hujan di Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi.
"OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan," kata Kabid Kedaruratan BPBD Riau Jim Gafur.
Selain modifikasi cuaca, sebanyak enam helikopter disiagakan di Riau, di mana satu unit dikhususkan untuk patroli udara dan lima unit lainnya dikerahkan untuk operasi bom air guna mendukung tim darat.
"OMC ini tidak dapat dilakukan serta merta, tergantung kondisi awanya. Tapi hujan buatan terus diupayakan tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir," ungkap Jim Gafur.
Meskipun operasi pemadaman terus digencarkan, dampak kebakaran lahan gambut dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar yang tinggal dekat dengan titik api.
Di Desa Rimbo Panjang, Kampar, seorang pengrajin kerupuk opak bernama Nurhayati tetap bertahan bekerja meski kobaran api menyala hanya berjarak sekitar 20 meter dari kediamannya.
"Rumah kami dikepung api karhutla sekarang ini. Ini jarak apinya dekat sekali. Asap cukup pekat," ujar warga Desa Rimbo Panjang Nurhayati.
Kebakaran di sekitar pemukiman warga tersebut telah berlangsung selama 11 hari dan memicu keluhan kesehatan seperti sesak napas serta mata perih.
"Ya, masih tetap kerja untuk hidup. Kami di sini sudah lima tahun jadi pengrajin opak," ungkap Nurhayati.
Kondisi bangunan rumah yang semi-permanen membuat warga merasa was-was dan harus memantau pergerakan api secara berkala pada malam hari.
"Kalau malam hari sesekali pantau-pantau keluar liat api. Khawatir rumah terbakar karena apinya dekat sekali," ujarnya.
Sementara itu, regu pemadam Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru terus berupaya membendung pergerakan api agar tidak mendekati area pemukiman warga.
"Saat ini api mengarah ke barat, jadi kami kepung kepala api untuk mencegah kebakaran meluas," kata Danru II Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru Sahrimanto.
Luas kebakaran di lokasi tersebut telah mencapai 8,8 hektare dan berpotensi bertambah akibat embusan angin kencang serta struktur tanah gambut yang kering mendalam.
"Bahan bakar (semak belukar dan gambut) potensial. Gambutnya cukup dalam dan kondisi kering. Ini yang sedang kami upayakan menyekat kepala api," kata Sahrimanto.
Proses pemadaman lahan mengalami kendala teknis akibat minimnya ketersediaan air di sekitar area pemadaman.
"Hambatannya sekarang sumber air terbatas. Kami hari pindah-pindah lokasi untuk mencari sumber air di kanal sekitar lokasi kebakaran," kata Sahrimanto.
Untuk mengusut penyebab kebakaran, pihak kepolisian telah memasang garis polisi di areal yang terbakar guna melakukan penyelidikan atas dugaan unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow