Museum MACAN Perpanjang Pameran Where Are We in Time Hingga 7 Oktober

Smallest Font
Largest Font

Museum MACAN resmi memperpanjang masa penayangan rangkaian pameran seni bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscape. Langkah ini diambil pengelola museum akibat tingginya antusiasme masyarakat untuk menyaksikan eksibisi tersebut, seperti dilansir dari Detikcom.

Jadwal penutupan pameran yang semula diagendakan pada 5 Oktober kini diundur hingga 7 Oktober 2026. Kepastian perpanjangan waktu ini disampaikan langsung oleh tim manajemen Museum MACAN melalui rilis pers resmi.

Pengunjung yang datang dalam periode perpanjangan ini dapat menikmati berbagai sajian eksibisi utama dari seniman lokal maupun mancanegara. Salah satunya adalah pameran museum perdana dari seniman dan sineas Riar Rizaldi bertajuk Period Piece.

Eksibisi karya Riar Rizaldi menyoroti gagasan kemajuan di Indonesia yang terikat dengan eksploitasi alam serta sistem kerja kolonial. Pameran ini menampilkan instalasi komisi baru berjudul Bioskop Asymptotic (2026) yang mereka ulang lobi bioskop era 1990-an, disandingkan dengan karya Fanfictie: Volcanology (2025) dan Tropenkolder (2026).

Sajian kedua adalah eksibisi bertajuk Menelan Cakrawala. Pameran ini menghadirkan ragam karya modern dan kontemporer dari puluhan perupa ternama, seperti Raden Saleh, S. Sudjojono, Dede Eri Supria, Anselm Kiefer, hingga Jean Dubuffet.

Melalui berbagai medium visual, Menelan Cakrawala menelusuri proses pembentukan lanskap budaya visual sekaligus mempertanyakan pengaruh kekuatan masa lalu terhadap dinamika dunia hari ini.

Selanjutnya, perupa asal Singapura Dawn Ng menghadirkan instalasi fana bertajuk Atlantis II. Karya ini memanfaatkan balok-balok es berpigmen warna berbobot hingga 80 kilogram yang digantung di atas kertas xuan Tiongkok.

Proses mencairnya es secara perlahan menciptakan formasi pigmen menyerupai nebula atau kepulauan yang luruh. Dawn Ng menyusun proses perubahan wujud ini secara berurutan sebagai sebuah rekaman tahap kemusnahan waktu.

Selain itu, terdapat presentasi khusus dari perupa Malaysia Marcos Kueh bertajuk Kenyalang Circus. Pameran ini menampilkan tapestri tenun digital industri yang mereproduksi berbagai simbol sakral khas Borneo.

Melalui tiga seri karya utama—yaitu Kenyalang Circus: Nenek Moyang (2023), seri Woven Poster, dan Kerbau—Marcos mengkritisi praktik pementasan, komersialisasi, serta konsumsi warisan budaya di era modern.

Museum MACAN juga menyediakan penawaran khusus berupa paket tiket dan merchandise bagi para pengunjung yang berlaku sepanjang periode pameran mulai 1 September.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed