Netanyahu dan Zelenskyy Temui Trump Saat Upacara Pemakaman Graham

Smallest Font
Largest Font

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghadiri upacara pemakaman mendiang Senator Lindsey Graham di Washington pada Selasa, 28 Juli 2026. Momen tersebut dimanfaatkan kedua pimpinan negara untuk mengadakan pertemuan bilateral bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pertemuan diplomasi ini berlangsung di tengah jeda pertempuran antara AS dan Iran yang sudah memasuki hari ketiga tanpa serangan udara. Trump menyebut perbedaan pandangan antara dirinya dan Netanyahu mengenai perang Iran relatif tipis, sementara pembicaraan lain mencakup kesepakatan kerangka kerja trilatreal Israel-Lebanon serta perluasan Abraham Accords.

Kunjungan Netanyahu ke Washington juga diwarnai aksi unjuk rasa ratusan demonstran pro-Palestina di depan Gedung Putih pada Senin. Para pengunjuk rasa membentangkan spanduk bertuliskan penghentian mesin perang AS-Israel dan penegakan hak asasi manusia warga Palestina, merujuk pada korban tewas di Gaza yang telah menembus 73.000 jiwa sejak Oktober 2023.

Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu Israel pada akhir Oktober dan proses persidangan kasus korupsinya. Sejumlah analis serta pejabat AS menilai pengaruh diplomasi Netanyahu di Washington mulai melemah akibat ketegangan terkait rencana penjualan jet F-35 ke Turki serta penanganan konflik Iran.

"Satu-satunya alasan Netanyahu melakukan kunjungan ini murni sinis," kata Alon Pinkas, mantan duta besar dan konsul jenderal Israel di New York.

"Seharusnya ada agenda, seharusnya mereka akan berbicara tentang Iran, F-35, dan potensi kesepakatan nuklir Arab Saudi," kata Pinkas.

"Namun sebenarnya ini tentang dua hal: berharap dapat meyakinkan sekutu dan kritikus di Israel bahwa hubungan dengan Trump tetap terjaga dan, secara terpisah, berharap Trump akan kembali menyerukan pengampunan baginya dalam sidang korupsi," tambah Pinkas.

Penilaian senada disampaikan oleh analis keamanan Israel, Ahron Bregman, yang melihat posisi politik sang perdana menteri kian terdesak di mata pejabat Washington.

"Netanyahu tiba di Washington saat bahkan banyak orang di sekitar [Trump] curiga padanya. Dia telah menjadi toksik di AS," kata Ahron Bregman, analis keamanan Israel dan pengajar senior di King's College London.

"Dia dianggap di AS – benar atau salah – sebagai sosok yang menyeret Trump ke dalam perang pilihan yang berubah menjadi bencana strategis. Tidak ada seorang pun, bahkan Trump, yang akan membiarkannya berpura-pura menjadi orang terpintar di ruangan itu. Hari-hari itu sudah berlalu," kata Bregman.

Pengamat politik Mitchell Barak turut menyoroti pergeseran dukungan politik dari figur-figur penting di internal Partai Republik terhadap kepemimpinan Netanyahu.

"Netanyahu memiliki rekam jejak yang luar biasa dengan AS, namun dia telah membakar banyak jembatan," kata Mitchell Barak, pengamat jajak pendapat Israel dan mantan asisten Netanyahu pada tahun 1990-an.

"Kita telah melihat ketegangan melalui komentar Trump tentang berbagai penjualan F-35, termasuk yang terbaru ke Turki, serta kritik AS terhadap Netanyahu di awal perang Iran, jadi saya tidak terlalu yakin apakah Trump bakal terus mendukung Netanyahu lebih lama lagi," kata Barak.

"Bisa saja Trump menyatakan Netanyahu adalah pemimpin perang yang hebat, tetapi sudah waktunya bagi Israel untuk bangkit, sebelum bertemu dengan [politisi Israel lainnya] dan mendukung perdana menteri baru untuk Israel," kata Barak.

Sikap optimis tetap disampaikan Netanyahu melalui saluran resminya mengenai misi diplomasi yang dibawanya ke Amerika Serikat.

"Tujuan kami jelas: untuk menjaga keamanan Israel, memperkuat kekuatannya, dan memperluas lingkaran perdamaian di sekitar kami," kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy turut memanfaatkan momentum kunjungan untuk membahas proposal perdamaian baru dengan Trump pasca-insiden serangan militer Ukraina terhadap kapal komersial Iran di Laut Kaspia. Zelenskyy menyampaikan penghormatan terakhirnya kepada Lindsey Graham yang wafat pada 11 Juli akibat diseksi aorta.

"Ia mengunjungi Ukraina sepuluh kali selama tahun-tahun invasi skala penuh Rusia dan berada di sini bersama rakyat kami saat paling dibutuhkan," kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.

"Kami tetap berada dalam dialog konstan, dan saya akan merindukan percakapan kami," kata Zelenskyy.

Mendiang Senator Lindsey Graham dijadwalkan menjalani upacara pemakaman kedua di First Baptist Church of Columbia, Carolina Selatan, pada Rabu setelah disemayamkan di Washington National Cathedral.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed