Tingkat Okupansi Perkantoran CBD Jakarta Mencapai 76 Persen
Tingkat keterisian perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta menyentuh angka 76 persen pada kuartal II 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh perubahan kriteria calon penyewa yang kini mengutamakan kesiapan ruang kerja, akses transportasi, dan standar ESG ketimbang sekadar harga sewa, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Minggu (23/8/2026). Laporan Colliers Indonesia mencatat kinerja gedung berstatus premium tampil lebih unggul dengan tingkat okupansi mencapai 83 persen.
Penyerapan ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap ruang kerja berkualifikasi tinggi, sementara wilayah di luar CBD mencatatkan rerata tingkat hunian mendekati 70 persen. Meskipun terjadi peningkatan permintaan, pasar perkantoran Jakarta masih menyisakan ruang seluas 3 juta meter persegi yang belum terserap. Kondisi ini memberikan variasi pilihan bagi calon penyewa, sekaligus mendorong pemilik gedung menawarkan insentif seperti struktur sewa yang fleksibel hingga skema bebas biaya sewa dalam periode tertentu.
"Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan," kata Kepala Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam keterangannya, dikutip Minggu (23/8/2026).
Ketiadaan pasokan gedung baru yang rampung pada kuartal II 2026 menjaga total suplai perkantoran di area CBD tetap berada di angka 7,4 juta meter persegi. Pembatasan pasokan baru ini diharapkan dapat mempercepat penyerapan ruang yang masih tersisa dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Sektor logistik, energi, serta teknologi finansial dari lingkup domestik maupun mancanegara diperkirakan terus mendominasi penyerapan ruang hingga akhir 2026. Kelanjutan pemulihan sektor properti komersial ini bergantung pada kemampuan pemilik gedung dalam menyediakan efisiensi biaya, aksesibilitas, dan aspek keberlanjutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow