Operation Bluebird Luncurkan Platform Media Sosial Twitter Now
Perusahaan rintisan asal Virginia, Operation Bluebird, resmi meluncurkan jejaring media sosial baru bernama Twitter.now pada Senin (24/8/2026). Langkah ini diambil setelah pengembang mengklaim bahwa X Corporation telah melepas hak kekayaan intelektual atas nama dan logo ikonik Twitter.
Peluncuran platform berbasis peramban ini dilakukan saat proses persidangan atas gugatan penundaan peluncuran yang diajukan oleh Elon Musk dan X Corporation masih bergulir di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di Delaware. Hakim Distrik Colm Connolly pada April 2026 secara lisan mengindikasikan bahwa X Corp tidak menyertakan bukti kuat terkait penggunaan merek dagang burung dan kata tweet.
Mantan Penasihat Hukum Twitter lama yang kini memimpin Operation Bluebird, Stephen Coates, menegaskan keberanian timnya untuk merilis aplikasi tersebut ke publik.
"Kami adalah perusahaan kecil, kami memiliki investor, dan kami memiliki produk," kata Stephen Coates, pendiri Operation Bluebird.
Ia menambahkan bahwa penantian berbulan-bulan telah usai dan pihak manajemen memutuskan untuk tidak menunda operasional situs lebih lama lagi.
"Dan kami telah menunggu berbulan-bulan untuk meluncurkannya, dan kami tidak akan menunggu lagi," kata Stephen Coates, pendiri Operation Bluebird.
Coates menganggap arahan awal hakim dalam persidangan sudah cukup memberikan lampu hijau bagi operasional platform baru ini.
"Menurut pendapat kami, X telah melepaskan haknya atas merek dagang Twitter dan tweet," kata Stephen Coates, pendiri Operation Bluebird.
Untuk mengantisipasi masalah keamanan, Twitter.now dilengkapi dengan fitur pemeriksaan fakta otomatis bernama Vera yang berbasis kecerdasan buatan Gemini. Platform tersebut juga berupaya menciptakan ruang publik yang minim penyebaran konten berbahaya.
"Tujuan pertama kami adalah melihat apakah kami benar-benar dapat menghadirkan kembali ruang publik yang lebih aman dan tidak terlalu berbahaya," kata Stephen Coates, pendiri Operation Bluebird.
Ia menekankan bahwa sistem platform berfokus pada kebebasan berpendapat tanpa mengejar keuntungan dari penyebaran konten viral yang tidak akurat.
"Kami katakan kebebasan berbicara dan bukan kebebasan jangkauan. Kami ingin orang-orang mengatakan apa yang mereka inginkan, tetapi kami juga ingin menciptakan platform yang secara finansial tidak terkunci pada konten viral yang berbahaya atau tidak akurat," kata Stephen Coates, pendiri Operation Bluebird.
Di sisi lain, pengamat hukum dari Washington DC menilai aksi ini sebagai langkah hukum yang berani dan memicu eskalasi baru dari pihak lawan.
"Saya akan katakan ada unsur keberanian untuk melakukan ini, dan mereka akan mendapatkan perlawanan terbaik yang dimiliki X," kata Josh Gerben, pengacara merek dagang.
Gerben juga menambahkan bahwa pendaftaran merek dagang awal kini berlanjut ke tahap pertarungan hukum yang lebih sengit setelah peluncuran resmi dilakukan.
"Melakukan pengajuan merek dagang adalah satu hal; sekarang setelah mereka meluncurkannya, bakal ada tanggapan lain dari [X Corporation]," kata Josh Gerben, pengacara merek dagang.
Ia menutup pengamatannya dengan menyoroti perkembangan kasus hukum antara kedua entitas tersebut yang dinilai semakin menarik untuk diikuti.
"Mereka benar-benar menaikkan taruhannya sekarang. Ini adalah eskalasi kasus yang sangat menarik. Ambil satu ronde popcorn lagi ke dalam oven gelombang mikro!" kata Josh Gerben, pengacara merek dagang.
Layanan Twitter.now saat ini mematok biaya pendaftaran akun awal sebesar 20 dolar AS demi memverifikasi identitas pengguna serta mencegah masuknya akun bot otomatis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow