Otak Manusia Mampu Kenali Enam Jenis Teriakan Emosional

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Kemampuan otak manusia dalam merespons suara teriakan ternyata sangat spesifik. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa sistem saraf manusia mampu membedakan hingga enam jenis teriakan berdasarkan emosi yang dipancarkan. Dikutip dari Detikcom, riset ini bermula dari pengujian terhadap 12 relawan awam di ruang kedap gema.

Para peneliti dari studi yang dilaporkan Earth tersebut merekam sebanyak 420 sampel suara teriakan untuk dianalisis karakteristiknya secara mendalam. Pengujian dilanjutkan dengan melibatkan kelompok terpisah berisi 23 pendengar. Peneliti mengelompokkan enam jenis emosi yang diekspresikan lewat suara, yaitu rasa sakit, amarah, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, serta kesenangan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa otak dapat mengenali keenam jenis teriakan tersebut karena masing-masing memiliki pola suara yang khas. Sistem pembanding yang digunakan peneliti mencatat tingkat akurasi respons pendengar mencapai 79,8 persen.

Teriakan bahagia menjadi jenis suara yang paling mudah teridentifikasi oleh para relawan. Tingkat akurasi dalam menebak teriakan kegembiraan atau kesenangan ini bahkan mendekati angka 90 persen. Sebaliknya, jenis teriakan yang paling sulit dikenali adalah teriakan kesedihan. Tingkat akurasi pendengar saat mengidentifikasi ekspresi kesedihan tersebut hanya berada pada angka 65,8 persen.

Perbedaan Respons Otak dan Peran Amigdala

Peneliti kemudian menambah 90 relawan baru untuk mengukur kecepatan identifikasi jenis suara. Hasil pengujian menunjukkan bahwa teriakan peringatan atau ancaman justru membutuhkan waktu respons paling lama karena memicu kebingungan pada pendengar. Secara neurologis, teriakan bernada negatif seperti ketakutan, kesakitan, dan kemarahan lebih banyak mengaktifkan area otak frontal serta seluruh bagian korteks pendengaran. Sementara itu, teriakan positif atau bahagia secara spesifik memicu aktivitas pada bagian amigdala.

Amigdala berfungsi sebagai sistem alarm emosi di dalam otak. Bagian ini membantu manusia untuk mendeteksi sekaligus memproses berbagai sinyal emosional yang datang dari lingkungan sekitarnya. Ahli neurosains kognitif dari Universitas Oslo, Sascha Frühholz, menjelaskan bahwa fenomena manusia yang berteriak saat bahagia berkaitan erat dengan kehidupan sosial.

Musik, tawa, dan teriakan gembira menjadi media bagi manusia untuk mengekspresikan perasaan positif kepada sesamanya. Para peneliti mencatat keterbatasan dalam studi ini, yaitu sampel suara yang digunakan berasal dari akting dan bukan teriakan spontan. Selain itu, para relawan memiliki kecenderungan awal untuk menebak suara teriakan ke dalam kategori yang mengkhawatirkan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed