Keamanan Mobil Listrik Jadi Sorotan, Begini Cara Sistem BMS Bekerja
Popularitas kendaraan ramah lingkungan kini terus meningkat di berbagai belahan dunia karena harga jualnya yang semakin kompetitif dengan mobil bermesin konvensional.
Tren kenaikan penjualan ini juga terjadi di Indonesia dalam dua tahun belakangan yang dipicu oleh pemberian insentif dari pemerintah.
Meski peminatnya melonjak, sebagian masyarakat masih mengkhawatirkan faktor keamanan mobil listrik, terutama risiko baterai meledak saat terjadi kecelakaan.
Faktanya, mobil listrik dirancang memiliki tingkat keamanan yang setara dengan kendaraan konvensional, bahkan sering meraih peringkat tinggi dalam berbagai uji tabrak.
Produsen telah melengkapi kendaraan ini dengan sistem manajemen baterai khusus untuk memantau kinerja dan suhu guna mencegah potensi kebakaran.
Sistem Proteksi Elektronik Mobil Listrik
Pakar otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu, mengungkapkan bahwa kendaraan listrik dibekali dengan proteksi yang komprehensif.
Keamanan berlapis ini mencakup area baterai hingga sistem mekanis pengereman untuk memastikan kendaraan tetap aman saat mengaspal di jalan raya.
Berikut adalah komponen utama perlindungan elektronik yang tertanam pada sistem mobil listrik berdasarkan regulasi standar internasional:
| Komponen Keamanan | Fungsi Utama | Standar Regulasi |
|---|---|---|
| Battery Management System (BMS) | Memantau setiap sel baterai secara real-time | ISO 6469-1 |
| Kontaktor Tegangan Tinggi | Memutus sirkuit otomatis saat anomali atau tabrakan | ISO 6469-3 |
| Kemudi EPS | Menyediakan dual-circuit backup keselamatan | ISO 26262 (ASIL-D) |
"Battery Management System (BMS) sesuai ISO 6469-1 (keselamatan kelistrikan) memantau setiap sel baterai secara real-time, kontaktor tegangan tinggi siap memutus sirkuit saat anomali, dan sistem pengereman tetap berfungsi meski powertrain mati." kata Yannes Pasaribu, Kamis (18 Juni 2026).
"Kontaktor tegangan tinggi memutus sirkuit saat tabrakan per ISO 6469-3 (proteksi penumpang). Sistem pengereman memiliki redundansi hidrolik sesuai UN R13-H, tetap berfungsi tanpa daya listrik. Kemudi EPS dilengkapi dual-circuit backup per ISO 26262 (functional safety ASIL-D)," terang Yannes Pasaribu, Kamis (18 Juni 2026).
Uji Ketahanan Elektromagnetik dan Adaptasi Pengemudi
Komponen setir pada mobil listrik juga sudah mengadopsi sirkuit ganda yang memenuhi standar baku internasional.
Ketahanan sektor baterai diklaim mumpuni karena telah melalui serangkaian pengujian ekstrem sebelum unit dipasarkan ke masyarakat luas.
| Jenis Pengujian | Tujuan Sertifikasi | Acuan Standar |
|---|---|---|
| Uji Ketahanan Elektromagnetik (EMC) | Simulasi paparan medan magnet kuat di area perlintasan | ISO 11452 & CISPR 25 |
"Semua kendaraan yang dijual legal, baik ICE (internal combustion engine/mobil konvensional) maupun BEV (Battery Electric Vehicle/mobil listrik), wajib lulus uji ketahanan elektromagnetik atau EMC sesuai standar ISO 11452 dan CISPR 25 yang mensimulasikan paparan medan jauh lebih kuat daripada kondisi perlintasan kereta dan rasanya masih banyak lagi regulasi internasional yang wajib dipenuhi sebelum sebuah BEV dapat dipasarkan ke mancanegara," beber Yannes Pasaribu, Kamis (18 Juni 2026).
Pengemudi mobil listrik disarankan untuk beradaptasi dan memahami karakteristik kendaraan terlebih dahulu sebelum berkendara di jalan raya.
Pemahaman menyeluruh mengenai aspek teknis sangat penting agar pengemudi mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.
"Mobil listrik itu bukan sekadar 'mobil bensin yang diganti baterainya' ada perubahan fundamental pada cara kerja kendaraan yang langsung memengaruhi perilaku berkendara dan respons darurat," pungkas Yannes Pasaribu, Kamis (18 Juni 2026).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow