Pakar Penyelamatan Terus Gali Korban Banjir di Terowongan Nepal

Smallest Font
Largest Font

Pakar penyelamatan asal Australia, Arnold Dix, yang dikenal sebagai "Manusia Terowongan," terus menggali terowongan di utara Nepal untuk mencari korban banjir bandang yang terjadi pada 26 Agustus, dilansir dari Detik iNET.

Banjir dahsyat tersebut menimbun wilayah dengan lumpur, bebatuan, dan puing, menyebabkan ratusan pekerja hilang di lebih dari selusin terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sepanjang sungai Bhotekoshi.

Dix menyatakan bahwa sebagian besar struktur terowongan masih utuh meski dipenuhi batu, lumpur, dan air. Ia menilai manusia bisa bertahan hidup lebih lama di bawah tanah karena kondisi terowongan yang terlindung dari cuaca dan suhu yang relatif stabil.

"Ini benar-benar berbeda dari operasi penyelamatan mana pun yang pernah saya ketahui dalam sejarah dunia," ujar Dix kepada kantor berita EFE, sebagaimana dikutip oleh Detik iNET.

Menurut Dix, terowongan-terowongan itu mampu mengawetkan udara untuk bernapas dan menjadi tempat berlindung setelah seluruh permukaan hancur. Namun, akses menuju lokasi penyelamatan sangat sulit karena jalan-jalan menuju PLTA banyak yang hancur.

Selama minggu pertama operasi, Dix fokus mengidentifikasi ruang bawah tanah yang punya cukup udara, air, dan makanan sedikit untuk menopang kehidupan. Penilaian ini terbukti saat dua pekerja PLTA Trishuli 3A berhasil diselamatkan setelah sembilan hari terjebak di bawah tanah.

"Ada kantong-kantong ruang bawah tanah di mana orang-orang masih memiliki cukup udara, air, dan bahkan mungkin memiliki sedikit makanan, tidak banyak, tapi ada. Jadi secara teknis mereka bisa bertahan hidup," papar Dix.

Di fasilitas PLTA lain dekat perbatasan China, tim penyelamat masih belum tahu apakah ada yang selamat. Dix menyebut ruang di bawah tanah, tempat turbin dan peralatan lain berada, masih bisa menopang kehidupan meskipun permukaan sudah lenyap.

Strategi penyelamatan yang diterapkan sangat sederhana, yaitu menggali lorong sempit untuk mencapai rongga berisi udara di balik tumpukan lumpur dan puing.

"Kami tidak perlu melakukan hal aneh-aneh. Yang harus kami lakukan hanyalah menggali," ujar Dix.

Dix percaya pesimisme adalah musuh terbesar dalam upaya ini. "Manusia memiliki kemampuan bertahan hidup yang sangat luar biasa. Dan kita tahu bahwa orang-orang yang terjebak, jika mereka masih hidup, mereka pasti ingin terus hidup. Dan itulah hal yang paling penting," tambahnya.

Pengalaman Dix dalam penyelamatan korban di India tahun 2023 menguatkan keyakinannya. Dalam operasi tersebut, 41 pekerja berhasil diselamatkan setelah 17 hari terjebak di bawah tanah.

"Pekerjaan saya mewujudkan keajaiban. Sejarah menunjukkan dari waktu ke waktu, ketika orang berniat keras mencapai apa yang tampaknya mustahil, itu tak lagi mustahil," cetusnya.

Dix sengaja tidak mewawancarai dua pekerja yang berhasil dari Trishuli 3A untuk menghormati privasi mereka setelah trauma yang mereka alami.

"Hal terakhir yang perlu mereka lakukan adalah mencoba bicara dengan pria tua asing berjanggut yang mencecar dengan banyak pertanyaan. Saya takkan menanyakan apa pun kepada mereka," pungkas Dix.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed