Panji Petualang Meminta Maaf Usai Konten Bersama Agam Rinjani Menuai Protes
Kreator konten Panji Petualang menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat Suku Sasak dan relawan Gunung Rinjani pada Sabtu, 20 Juni 2026. Langkah ini diambil setelah rencana peliputan khusus satu tahun evakuasi pendaki Brasil, Juliana Marins, bersama Agam Rinjani memicu gelombang penolakan keras dari komunitas lokal di Lombok.
Penolakan tersebut datang dari Gerakan Advokasi Nusantara (Ganas) Lombok Timur dan Forum Wisata Lingkar Rinjani. Mereka menilai rencana dokumentasi itu mengabaikan kerja keras kolektif tim penyelamat dan terkesan mengeksploitasi insiden kemanusiaan demi popularitas personal.
Melalui akun media sosialnya, Panji Petualang awalnya mengumumkan rencana pembuatan dokumentasi khusus mengenai peristiwa evakuasi tersebut setelah bertemu dengan Agam di Jakarta.
"Aku pengin bikin liputan khusus satu tahun penyelamatan Juliana bareng bang Agam di Gunung Rinjani," ujar Panji Petualang, kreator konten.
Rencana kunjungan tersebut dipersiapkan untuk melihat secara langsung aktivitas harian Agam pasca-operasi penyelamatan setahun lalu.
"Tunggu ya teman-teman," tambah Panji Petualang.
Setelah unggahan tersebut memicu polemik, Panji segera memberikan klarifikasi dan menyampaikan penyesalan mendalam kepada seluruh pihak di Lombok yang merasa tersinggung.
"Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan ku," tulis Panji Petualang melalui akun Instagram resminya.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya persoalan masa lalu yang belum terselesaikan antara Agam dan para relawan di kawasan Rinjani.
"Ternyata tujuan ini juga mendapat penolakan dari sahabatku di Rinjani, ya khususnya di area Lombok dan sekitarnya. Karena adanya sesuatu yang belum selesai. Khususnya antara Bang Agam dengan teman-teman di sana," ujar Panji Petualang.
Panji juga mengakui kesalahannya terkait pencantuman teks yang menyematkan gelar pawang kepada rekan kolaborasinya tersebut.
"Mohon maaf banget, pokoknya aku enggak tahu-menahu soal masalahnya, aku enggak terlalu paham. Khususnya untuk masalah caption-ku terkait pawang Gunung Rinjani, itu memang salah," tegas Panji Petualang.
Dalam video klarifikasi terpisah, ia kembali membuka pernyataan dengan memberikan penghormatan kepada komunitas pelestari alam di kawasan tersebut.
"Salam Lestari, Salam Konservasi. Teruntuk teman-teman di Rinjani, khususnya untuk para relawan, volunteer, porter, dan masyarakat Suku Sasak serta yang lainnya, sahabatku semua di sana," ujar Panji Petualang.
Ia kembali menegaskan penyesalannya atas kegaduhan yang timbul akibat unggahan pertemuan tidak sengaja mereka di Jakarta.
"Aku minta maaf ya terkait video postingan kemarin bareng Bang Agam di Jakarta," ujar Panji Petualang.
Kreator dokumenter alam ini menyatakan bahwa ia menghormati sensitivitas masyarakat adat dan dinamika sosial yang ada di sekitar gunung.
"Cuma ternyata tujuan ini juga mendapat penolakan dari sahabatku di Rinjani, khususnya di area Lombok dan sekitarnya karena adanya sesuatu yang belum selesai antara Bang Agam dengan teman-teman di sana. Mohon maaf banget," ujar Panji Petualang.
Ia berharap kekeliruan ini tidak memutuskan hubungan silaturahmi dan mendoakan kesehatan bagi para petugas lapangan di Rinjani.
"Saya minta maaf untuk keluarga saya di Lombok, khususnya untuk Suku Sasak dan teman-teman relawan di sana. Semoga nanti kita bisa bertemu dalam kesempatan lain. Makasih banyak, salam sejahtera semua. Semoga sehat selalu untuk saudara-saudaraku di Rinjani dan sekitarnya," ujar Panji Petualang.
Sementara itu, Agam Rinjani sebelumnya sempat merespons positif rencana kolaborasi pembuatan konten kilas balik tersebut sebelum akhirnya resmi dibatalkan.
"Nanti akhir bulan kita gas," ucap Agam Rinjani, kreator konten.
Di sisi lain, perwakilan komunitas lokal dan relawan Rinjani menyatakan kekecewaan berat terhadap narasi tunggal yang beredar di media sosial belakangan ini.
"Ini menyangkut rasa keadilan bagi teman-teman yang ikut terlibat dalam proses penyelamatan dan evakuasi saat itu," ujar Royal Sembahulun, Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani dan Perwakilan Ganas Lombok Timur.
Komunitas Lingkar Rinjani juga mempertanyakan transparansi pengelolaan dana donasi kemanusiaan serta realisasi janji program penghijauan pasca-evakuasi.
"Kami tidak iri dengan uang. Yang kami persoalkan adalah etika. Ketika sesuatu dilakukan bersama-sama, maka penghargaan dan manfaatnya juga harus dirasakan bersama," kata Royal Sembahulun.
Penggunaan istilah pawang atau pahlawan secara personal dinilai mengaburkan fakta bahwa operasi penyelamatan tersebut merupakan kerja keras dari sedikitnya tujuh relawan, tim SAR, dan masyarakat adat.
"Kami memiliki masyarakat adat dan banyak tokoh yang sejak lama menjaga Rinjani. Karena itu kami tidak bisa menerima jika ada pihak yang tiba-tiba diberi gelar seperti itu," tegas Royal Sembahulun.
Sebelum adanya klarifikasi dari Panji, komunitas lokal sempat bersiap melakukan penolakan secara terbuka di lapangan jika kegiatan tetap dipaksakan.
"Kami akan menyampaikan penolakan secara terbuka jika memang kegiatan itu jadi dilakukan," kata Royal Sembahulun.
Pihak forum menekankan bahwa mereka mendukung penuh upaya promosi pariwisata Rinjani asalkan narasi yang diangkat adil dan proporsional bagi semua pihak.
"Kalau peliputan itu melibatkan semua pihak yang ikut berjuang saat proses evakuasi, tentu kami mendukung. Tetapi kalau hanya untuk mengangkat satu orang saja, kami tidak bisa menerima," ujarnya.
Royal menyayangkan sikap Agam yang dianggap mendadak muncul kembali ke publik untuk kepentingan popularitas setelah setahun tidak berkomunikasi dengan tim lapangan.
"Tentunya kami kecewa. Tiba-tiba setahun menghilang, dan sekarang ingin datang untuk memamerkan dirinya. Bahwa orang yang paling berjasa di dalam penyelamatan Juliana," ujar Royal Sembahulun.
Ia menegaskan penolakan ini didasari oleh pertimbangan moral agar setiap dokumentasi di kawasan konservasi tetap menghargai perjuangan kolektif.
"Kita tidak berbicara seolah-olah hanya materi, tapi kita berbicara moral dan etika. Di mana ketika kamu mendapatkan materi yang berlimpah lalu menghilang. Terus sekarang ingin kembali dengan jargon sang Pawang Rinjani dan Pahlawan Rinjani untuk mengangkat dirimu sendiri," tegas Royal Sembahulun.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow