Pemerintah Tambah Layar Pintar dan Pelajaran Bahasa Asing di Sekolah
Pemerintah mempercepat digitalisasi pendidikan dengan menambah fasilitas layar pintar interaktif serta mengenalkan pelajaran bahasa asing mulai kelas 1 SD. Kebijakan strategis ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Pemerintah menargetkan perbaikan 100.000 sekolah hingga 2029, mencakup jenjang SD, SMP, SMA, SMK, hingga pesantren. Capaian renovasi sekolah hingga tahun ini dilaporkan telah menyentuh 71.744 unit, melonjak drastis dibanding angka tahun sebelumnya yang mencatatkan 16.167 sekolah. Setelah membagikan satu layar pintar interaktif (IFP) ke setiap sekolah pada 2025, pemerintah kini akan menambah tiga unit perangkat lagi per sekolah.
Penambahan tersebut membuat setiap sekolah memiliki empat ruang kelas berbasis teknologi modern. Fasilitas terintegrasi ini memungkinkan para pengajar di seluruh daerah mengakses kurikulum nasional hingga materi pembelajaran internasional secara langsung. Pemerintah juga mendirikan studio terpusat agar guru-guru terbaik dapat menyiarkan materi pelajaran secara jarak jauh ke ribuan sekolah.
Penguasaan bahasa asing diarahkan untuk menyasar negara-negara dengan kekuatan ekonomi, sains, dan teknologi yang dominan. Menurut Presiden Prabowo, anak-anak di bawah usia 11 hingga 12 tahun memiliki kapabilitas menyerap bahasa baru secara jauh lebih cepat.
"Pelajaran apa pun kita akan kumpulkan guru-guru terbaik, termasuk bahasa asing, bahasa asing harus mutlak harus kita kuasai," kata Prabowo.
Program bahasa asing ini dirancang untuk membekali lulusan agar mampu bersaing di pasar kerja global. Pelajaran yang disiapkan mencakup bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, hingga Rusia.
"Kita akan mulai bahasa asing untuk anak-anak kita mulai dari SD, SD kelas 1 mereka harus mulai bahasa asing, bahasa yang paling penting, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Arab, bahasa juga Jepang, Korea, bahasa Spanyol, bahasa Prancis," ucap Prabowo.
Akses pendidikan berkualitas dipandang sebagai kunci utama untuk membuka ruang karier yang lebih luas bagi generasi muda di masa depan.
"Dari kecil di bawah 11 tahun, 12 tahun, mereka lebih cepat belajar, anak-anak kita harus ada akses kepada pendidikan terbaik agar mereka nanti kalau masuk, kalau sudah cari lapangan kerja mereka punya kemampuan lebih, mereka bisa diterima di mana-mana, mereka bisa kerja dengan pihak manapun," ujar Prabowo.
Pemilihan bahasa asing tersebut disesuaikan dengan peta kemajuan industri dan teknologi global saat ini.
"Kita mengerti sekarang, Tiongkok ekonomi paling dinamis, Jepang juga maju, Korea juga maju, Prancis juga maju, Spanyol banyak negara bicara Spanyol, banyak negara bicara Prancis, banyak negara bicara Arab, kita juga harus belajar bahasa Rusia mereka kuat di bidang science dan teknologi," tutur Prabowo.
Di sisi lain, sektor anggaran siap mendukung penuh perluasan perangkat papan edukasi digital sesuai Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Kementerian Keuangan memastikan kesiapan dana untuk merealisasikan rencana penambahan satu juta panel pintar interaktif pada 2026.
"Saya tadi ingin melihat bagaimana pemakaian papan edukasi digital atau brite panel program Bapak Presiden Prabowo di sekolah-sekolah," kata Purbaya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pengoperasian teknologi ini terbukti mempermudah siswa dalam menyerap materi pelajaran yang tergolong rumit. Pengamatan langsung dilakukannya saat mengikuti proses pembelajaran di dua kelas jenjang SMP dan SMA di Jakarta selama 30 menit.
"Ternyata saya saksikan tadi, saya ikuti kelasnya, duduk setengah jam di dua kelas. Itu amat efektif, membuat mata pelajaran yang sulit bisa diajarkan dengan relatif mudah ke murid-muridnya," kata Purbaya.
Kementerian Keuangan mendorong agar penyediaan perangkat digital ini dapat menjangkau seluruh ruang kelas secara merata di masa mendatang.
"Cuma kalau saya pikir, masih kurang. Idealnya ada satu kelas, satu, secara bertahap nanti ke depan. Jadi program ini amat baik dan patut dilanjutkan," kata Purbaya.
Skema penambahan perangkat interaktif bakal dilakukan bertahap hingga setiap sekolah memiliki minimal enam ruang kelas digital dalam tiga tahun ke depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow