Pemerintah dan Tim Gabungan Intensifkan Penanganan Karhutla Riau
Kementerian Lingkungan Hidup mengancam bakal menyegel hingga memidanakan 335 perusahaan di Kalimantan dan Sumatra yang terindikasi sengaja membakar lahan, sementara tim gabungan di Kabupaten Pelalawan, Riau, mengintensifkan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Ancaman penegakan hukum tegas disuarakan pemerintah seiring dengan membesarnya dampak kebakaran di wilayah Riau. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur menegaskan konsekuensi hukum bagi korporasi yang terbukti memiliki niat jahat membakar lahan.
"Kalau 335 perusahaan itu bahkan mungkin bisa lebih lagi indikasinya ada niat untuk membuka lahan dengan cara mudah, cara murah, dengan membakar begitu, konsekuensinya kita tahu sendiri dalam penegakan hukum kita; ada denda kepada negara, ada biaya pemulihan, dan kalau indikasinya kuat memang betul-betul mens rea-nya (niat jahat) sudah jelas begitu, itu bisa pidana," ujar Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur.
Pemerintah terus memantau pemenuhan janji para pemegang konsesi lahan dalam memitigasi bencana kebakaran. Sejumlah tindakan tegas juga telah direalisasikan di lapangan terhadap perusahaan yang terbukti melanggar.
"Saya peringatkan lagi bahwa janji pemilik konsesi untuk memitigasi supaya tidak terjadi kebakaran, itu tetap harus dikejar. Kita setelah ini akan memverifikasi, dan sudah ada laporan dari beberapa perusahaan yang memang indikasinya kuat dia nakal begitu, sudah kita segel," kata Jumhur.
Jumhur menambahkan bahwa saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terdapat area lahan terbakar seluas 4 hektare yang telah berhasil dipadamkan dan kini memasuki tahap pendinginan.
"Saya melihat di Riau karena mitigasinya baik sebelum adanya El Nino ini, ada sekat kanal, persiapan embung-embung dan sebagainya yang pemerintah dan pak Kapolda bekerja keras untuk itu dengan 'Riau Bersinergi', Alhamdulillah dari data kami, Riau termasuk provinsi yang sekarang mitigasinya sangat baik," ucap Jumhur.
Keberhasilan langkah pencegahan di wilayah Riau terlihat dari penurunan angka kasus kebakaran secara signifikan. Evaluasi mitigasi tersebut diharapkan menjadi acuan penanganan bencana bagi kawasan lain.
"Dan jumlah kebakaran dan sebagainya jauh menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jadi, saya rasa ini bisa jadi pembelajaran untuk semua," lanjut Jumhur.
Di Kabupaten Pelalawan, upaya pemadaman darat dan udara terus dipacu akibat meluasnya kebakaran di kawasan Kerumutan. Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau Edy Afrizal mengonfirmasi pengerjaan fisik di lokasi untuk menyekat pergerakan api.
"Untuk memblokir api," kata Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau, Edy Afrizal.
Pemerintah daerah menambah armada unit alat berat guna mempercepat proses penyekatan di area gambut yang mengering. Pembuatan parit penahan disiapkannya untuk menembus kendala minimnya pasokan air.
"Tujuanya untuk mempercepat pembuatan parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar," ujar Edy.
Kondisi iklim El Nino memicu pengeringan lapisan lahan gambut hingga ke bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat struktur tanah sangat rentan menyebarkan api secara tersembunyi.
"Inilah salah satu fungsi alat berat membuat parit gajah itu untuk memblokir api," ungkap Edy.
Petugas di lapangan menghadapi barikade vegetasi semak belukar yang rapat serta tiupan angin kencang. Akses menuju lokasi utama juga terbatas sehingga kendaraan roda empat tidak mampu menjangkau titik api.
“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” jelas Edy.
Operasi udara berupa bom air atau water bombing turut dikerahkan ke titik-titik krusial kebakaran. Namun, Edy mengakui pemadaman total tidak cukup dilakukan hanya dari udara.
“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” paparnya.
Bara api yang mengendap di bawah lapisan gambut kering sering kali menyala kembali meski bagian permukaan sudah tersiram air. Hal ini memerlukan penanganan darat yang ekstra intensif.
“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkap Edy.
Operasi pemadaman di Kerumutan turut melibatkan 15 personel BPBD dan Damkar Riau, dua regu Manggala Agni (12 personel Daops Rengat dan 13 personel BKO Daops Siak), 30 personel Polda Riau, serta 20 personel Kodam. Selain itu, empat unit helikopter water bombing dikerahkan untuk memperkuat pemadaman udara.
Penanganan bencana juga diselaraskan dengan mitigasi dampak kesehatan masyarakat. Polda Riau menerjunkan 13 personel Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) untuk memberikan layanan medis serta membagikan masker dan obat-obatan.
"Kami melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat yang terdampak asap. Tim juga mendatangi langsung beberapa warga untuk memastikan mereka mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan," kata Kabiddokkes Polda Riau, AKBP dr Parluhutan Sitindaon.
Layanan kesehatan difokuskan di Desa Banjar Panjang secara terpusat maupun door-to-door. Petugas gabungan yang berjibaku memadamkan api turut mendapat bantuan medis rutin.
"Paparan asap dalam waktu lama tentu perlu menjadi perhatian. Karena itu, fokus kami bukan hanya masyarakat, tetapi juga personel yang setiap hari berada di lapangan melakukan pemadaman," ujarnya.
Fasilitas kesehatan setempat disiagakan guna mengantisipasi lonjakan kasus penyakit saluran pernapasan. Kesiapan logistik medis di Puskesmas Kerumutan telah ditinjau secara langsung oleh tim Polda Riau.
"Kami memastikan fasilitas kesehatan terdekat memiliki kesiapan apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan masyarakat yang membutuhkan penanganan. Ketersediaan ruang perawatan, oksigen, masker hingga obat-obatan sudah kami cek langsung," kata Parluhutan.
Selain Biddokkes, Biro SDM Polda Riau menerjunkan 10 personel Bagian Psikologi di bawah pimpinan AKBP Winarko untuk memberikan layanan trauma healing kepada warga dan petugas pemadam.
"Kami hadir karena karhutla bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi ada juga anak-anak yang kehilangan ruang bermain, orangtua yang cemas karena penghasilan terganggu akibat kebun yang terbakar dan tak bisa diolah, termasuk petugas di lapangan yang juga mengalami kelelahan fisik maupun psikis," ujar Kabag Psikologi Biro SDM Polda Riau, AKBP Winarko.
Tim psikologi memfasilitasi teknik relaksasi mental dan penguatan psikis guna mengurangi dampak beban emosional warga terdampak. Langkah pendampingan terus dibuka secara inklusif.
"Kami sampaikan kepada masyarakat yang terdampak bahwa rasa takut, cemas atau marah itu wajar dalam situasi bencana. Yang penting warga memiliki cara untuk mengelolanya dan tidak memendam sendiri," katanya.
Upaya pendampingan psikologis dijadwalkan meluas ke desa-desa lain di Kabupaten Pelalawan yang masih terdampak paparan asap tebal.
"Pulih dari bencana itu butuh waktu. Tugas kami memastikan bahwa selama proses itu tidak ada yang merasa sendirian," tutup Winarko.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow