Polda Riau Gunakan Dashboard Green Policing Pantau Karhutla Real-Time

Smallest Font
Largest Font

Polda Riau mengoptimalkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan berbasis digital melalui penyiapan Dashboard Green Policing di Kampar, Sabtu (22/8/2026). Teknologi terintegrasi ini dirancang mendeteksi titik api sekaligus memetakan capaian pemulihan lingkungan secara langsung.

Pengenalan sistem digital tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan di hadapan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat serta ahli kebakaran hutan dan lahan dari IPB, Bambang Hero Saharjo. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pemeliharaan lingkungan yang terukur.

"Sistem ini tidak hanya dapat digunakan untuk melihat kerawanan dan kejadian karhutla, tetapi juga merekam berbagai capaian Green Policing yang dilakukan secara berkelanjutan," ujar Irjen Pol Herry Heryawan.

Hingga saat pengenalan sistem, Dashboard Green Policing telah merekam 7.349 titik terdata di wilayah Riau. Sistem ini mengintegrasikan pemetaan 110 Jembatan Presisi sebagai bagian dari pelaksanaan program kepolisian setempat.

Selain pemantauan titik api, sistem mencatat penanaman 226.301 pohon per 22 Agustus 2026. Jumlah vegetasi yang terdata tersebut diproyeksikan mampu menyerap emisi karbon hingga 4.978,6 ton CO₂ setiap tahunnya.

"Semua kita dorong berbasis data. Berapa pohon yang ditanam, di mana lokasinya, bagaimana sebarannya, sampai berapa besar estimasi karbon yang dapat diserap. Begitu juga dengan karhutla. Kita ingin memiliki sistem yang membantu kita membaca persoalan lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat," kata Irjen Pol Herry Heryawan.

Penggunaan inovasi teknologi ini menjadi pilar utama paradigma kepolisian berbasis Green Policing. Pola kerja tersebut menggeser fokus utama dari penegakan hukum pasca-kerusakan menuju tindakan pencegahan dan edukasi.

"Ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa perkara yang ditangani atau berapa pelaku yang ditangkap. Kita juga harus mampu mengukur apa yang sudah dikembalikan kepada alam. Berapa pohon yang tumbuh, berapa karbon yang dapat diserap dan bagaimana kawasan yang rusak bisa dipulihkan," ujarnya.

Irjen Pol Herry Heryawan menegaskan bahwa kompleksitas ancaman karhutla di Provinsi Riau menuntut penanganan kolektif. Ekosistem kerja terpadu harus melibatkan unsur pemerintah, TNI-Polri, akademisi, hingga masyarakat luas.

"Karhutla bukan hanya persoalan ketika api muncul. Yang harus kita bangun adalah bagaimana api itu tidak muncul kembali. Di situlah pentingnya data, ilmu pengetahuan, penegakan hukum dan kolaborasi," pungkas Irjen Pol Herry Heryawan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed