Pemimpin Eropa Gelar Pertemuan Rahasia Bahas Donald Trump

Smallest Font
Largest Font

Sebanyak hampir 30 pemimpin Eropa menggelar pertemuan rahasia tanpa kamera pada Januari lalu di markas besar Dewan Eropa untuk meluapkan emosi dan kekhawatiran mereka terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan yang dijuluki sebagai "malam terapi" tersebut mencuat setelah Donald Trump kembali menunjukkan ketertarikannya untuk merebut Greenland dari Denmark, yang memicu kekhawatiran besar terkait ketergantungan keamanan Eropa terhadap Amerika Serikat. Laporan The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron membuka jalannya diskusi tertutup tersebut di markas European Council yang dikenal dengan sebutan "The Space Egg".

"We are drawing a line here," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memulai pertemuan di "The Space Egg," markas besar Dewan Eropa, menurut beberapa pemimpin yang hadir dan asisten senior mereka.

Macron menilai ketergantungan Eropa terhadap aspek keamanan dari Amerika Serikat kini telah menjadi risiko yang nyata. "There is no going back," kata Macron, saat ia membingkai ketergantungan Eropa pada AS sebagai risiko keamanan, Journal melaporkan.

Sejumlah presiden dan perdana menteri yang hadir kemudian mengeluhkan fokus administrasi Trump yang dianggap lebih mementingkan kesepakatan bisnis sektor pertambangan dan energi ketimbang menjalankan peran tradisional AS di kancah global. Perdana Menteri Belgia Bart De Wever turut menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai posisi tawar benua Eropa di hadapan Amerika Serikat.

"risked becoming ‘a miserable slave’ to the U.S.," kata Bart De Wever, perdana menteri Belgia, menurut Journal. Situasi emosional juga terlihat dari Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen yang tampak sangat terguncang, hingga Kanselir Jerman Friedrich Merz harus menanyakan kondisinya. Di sisi lain, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni memilih berbeda pandangan dari mayoritas pemimpin Eropa lainnya dengan menyatakan bahwa Trump masih bisa diajak berkomunikasi.

"could still be reasoned with," kata orang-orang yang mengenalnya kepada outlet tersebut.

Perdebatan panjang tersebut merefleksikan pergeseran besar terhadap pandangan Eropa mengenai peran Amerika Serikat yang selama 250 tahun terakhir menjadi pelindung mereka. "Hours passed as people talked over each other in a conversation with such seismic implications it seemed surreal: In its 250th year, had America, protector of Europe, now become a threat?" tulis Journal. Pertemuan tertutup yang baru terungkap ini terjadi menjelang kehadiran Donald Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki yang dimulai pada hari Selasa.

Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa Trump menantikan diskusi yang jujur dan konstruktif dengan para pemimpin dunia, sekaligus menuntut kontribusi lebih dari anggota NATO.

"President Trump has effectively restored America’s standing on the world stage, and he has done more for NATO than anyone else," kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly kepada Journal. Kelly menambahkan bahwa sang presiden meyakini beberapa negara anggota NATO harus berbuat lebih banyak untuk memenuhi kewajiban mereka.

"He also believes that some NATO members should do much more to fulfill their obligations," kata Anna Kelly.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed