Pemprov DKI Jakarta Tawarkan 37 Proyek Strategis Rp115 Triliun
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menawarkan 37 proyek investasi strategis bernilai sekitar Rp115 triliun atau setara US$5 miliar kepada investor domestik dan global dalam acara Jakarta Investment Festival 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Portofolio investasi tersebut mencakup berbagai sektor kunci, mulai dari Pembangunan Berorientasi Transit (TOD), hunian dan perhotelan, kawasan komersial terpadu, industri dan logistik, hingga infrastruktur kawasan tepi air. Salah satu proyek prioritas yang kembali dihidupkan adalah fasilitas pengolahan sampah menjadi energi Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter di Jakarta Utara senilai Rp5,3 triliun.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa proyek ITF Sunter yang telah mangkrak sejak 2023 tersebut dirancang untuk mereduksi volume sampah secara signifikan sekaligus memasok kebutuhan listrik daerah.
"Dengan kapasitas pengolahan sampah 2.200 ton per hari, ITF Sunter dirancang untuk mereduksi volume sampah lebih dari 80%, sekaligus menghasilkan listrik hingga 35 MW dengan perkiraan nilai proyek Rp 5,3 triliun," ujar Pramono dalam acara Jakarta Investment Festival 2026, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026).
Gubernur menambahkan bahwa pengaktifan kembali fasilitas pengolahan sampah ini selaras dengan target pengelolaan lingkungan jangka panjang yang dicanangkan oleh pemerintah daerah.
"Proyek ini merupakan bagian penting dari komitmen Jakarta untuk memperkuat pengolahan sampah berkelanjutan demi mencapai target zero dumping pada 2028," sambungnya.
Untuk memastikan ketertarikan investor global, Pemprov DKI Jakarta menjamin kesiapan regulasi, penyediaan lahan, hingga kepastian skema biaya layanan persampahan.
"Kami mengundang para investor dan mitra untuk meninjau lebih jauh proyek ITF Sunter serta menjajaki peluang kerja sama dalam mengubah tantangan ini menjadi solusi perkotaan yang berkelanjutan dan peluang investasi yang layak," ucapnya.
Pramono menegaskan bahwa keseluruhan proyek bernilai Rp115 triliun tersebut ditujukan untuk mentransformasi infrastruktur Jakarta secara terpadu melalui keterlibatan pemilik modal dan penyedia teknologi.
"Kami menyambut para mitra yang dapat membawa modal, teknologi, keahlian, dan model bisnis inovatif untuk mengubah peluang ini menjadi hasil nyata bagi Jakarta," pungkas Pramono.
Pramono memaparkan detail penawaran investasi tersebut di hadapan para pemangku kepentingan dan investor internasional.
"Kami dengan bangga memperkenalkan portofolio 37 proyek investasi strategis di Jakarta dengan total nilai indikatif sekitar Rp115 triliun, atau US$5 miliar," ujar Pramono dalam acara JIF di Hotel Shangri-La Jakarta, Jumat (28/8).
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur kembali menegaskan ajakan terbuka bagi para calon investor untuk berpartisipasi dalam skema pembangunan kota.
"Melalui portofolio ini, kami mengundang investor tidak hanya untuk berinvestasi pada proyek individual, tetapi juga ikut membentuk babak berikutnya dari pertumbuhan Jakarta," jelasnya.
Pramono memaparkan kembali spesifikasi teknis ITF Sunter sebagai salah satu penopang utama penanganan persampahan kota.
"ITF Sunter dirancang untuk mengurangi volume sampah lebih dari 80 persen sekaligus menghasilkan listrik hingga 35 megawatt (MW) dengan estimasi nilai proyek Rp5,3 triliun," jelasnya.
Penjelasan tersebut ditutup dengan penegasan kesiapan jajaran Pemprov DKI Jakarta dalam memberikan kepastian iklim investasi.
"Kami mengundang investor dan mitra untuk melihat lebih dekat ITF Sunter dan mengeksplorasi bagaimana kita dapat bekerja sama mengubah tantangan ini menjadi solusi perkotaan yang berkelanjutan sekaligus peluang investasi yang layak," tandas Pramono.
Langkah Pemprov DKI Jakarta ini mendapat dukungan dari Anggota MPR RI dari DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris. Fahira menilai penawaran proyek ini menjadi momentum penting bagi akselerasi Jakarta menuju kota global.
"Saya mengapresiasi langkah Pemprov DKI membuka 37 proyek strategis ini kepada investor. Jakarta membutuhkan investasi berkualitas yang membawa modal sekaligus teknologi, keahlian, inovasi, membuka lapangan kerja, dan mempercepat peningkatan kualitas kota," ujar Fahira dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Ia menekankan bahwa tolok ukur utama dari realisasi investasi ini harus berujung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta.
"Ukuran keberhasilannya bukan hanya berapa nilai investasi yang masuk, tetapi seberapa besar investasi tersebut membuat Jakarta semakin nyaman, terkoneksi, produktif, dan layak huni bagi warganya," ungkapnya.
Fahira juga mengingatkan pentingnya menatap masa depan pembentukan Jakarta sebagai kawasan metropolitan yang inklusif dan hijau.
"Jakarta sedang menuju usia lima abad dan memasuki era baru sebagai kota global. Kita membutuhkan investor yang bukan hanya melihat Jakarta sebagai pasar, tetapi sebagai mitra jangka panjang untuk membangun kota yang lebih maju, hijau, inklusif, dan berdaya saing," jelas Fahira.
Sementara itu, Jakarta Public Service (JPS) memberikan catatan evaluasi teknis terkait perencanaaan ITF Sunter. Direktur Eksekutif JPS M Syaiful Jihad meminta Pemprov DKI memperkuat analisis dampak lingkungan berdasarkan pengalaman operasional fasilitas pengolahan sampah di tempat lain, seperti RDF Plant Rorotan.
“Pemprov DKI Jakarta perlu melakukan kajian mendalam sebelum fasilitas WTE dioperasikan, terutama terkait aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan residu hasil pengolahan sampah,” kata Direktur Eksekutif JPS M Syaiful Jihad di Jakarta, Sabtu.
Syaiful menekankan pentingnya pengawasan lingkungan agar pembangunan fasilitas persampahan baru tidak menimbulkan masalah emisi bagi warga sekitar.
"Jangan sampai kita memiliki fasilitas pengolahan sampah, tetapi kemudian muncul persoalan baru di lingkungan sekitar. Karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan harus benar-benar dilakukan secara komprehensif dan terbuka," ujar Syaiful.
Syaiful juga menjelaskan bahwa pengangkutan sampah menuju fasilitas terpadu memerlukan standar operasional penanganan bau yang ketat.
"Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menyatakan pengangkutan menuju fasilitas tersebut menggunakan truk compactor tertutup untuk mengurangi potensi bau dan ceceran air lindi," tutur Syaiful.
Dengan timbulan sampah Jakarta yang mencapai 7.700 hingga 8.000 ton per hari, Syaiful memproyeksikan ITF Sunter berkapasitas 2.200 ton per hari dapat menangani 27 hingga 29 persen beban sampah harian ibu kota.
"Artinya, fasilitas tersebut berpotensi memberikan kontribusi cukup besar dalam mengurangi beban pengelolaan sampah, meski tidak dapat menjadi satu-satunya solusi," imbuh Syaiful.
Syaiful menambahkan bahwa penyelesaian krisis sampah yang menumpuk hingga 55 juta ton di TPST Bantar Gebang memerlukan metode pengolahan modern di luar pola penimbunan konvensional.
“Kondisi ini membutuhkan penanganan di luar pola pembuangan ke tempat pemrosesan akhir,” kata Syaiful.
Ia mengapresiasi opsi pemanfaatan sampah menjadi daya energi sebagai langkah taktis mereduksi beban lingkungan.
"Upaya untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta tentu harus kita dukung. WTE bisa menjadi salah satu solusi karena sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga diolah dan dimanfaatkan menjadi energi," ujar Syaiful.
JPS mengharapkan transparansi Pemprov DKI Jakarta dalam memenuhi seluruh baku mutu emisi dan pelibatan publik sebelum proyek infrastruktur energi tersebut dioperasikan penuh.
"WTE jangan sampai hanya menjadi proyek infrastruktur pengolahan sampah, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah Jakarta yang berkelanjutan," pungkas Syaiful.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow