Peneliti Harvard Pertahankan Organoid Otak Manusia Selama Enam Tahun
Tim ilmuwan dari Universitas Harvard dan Broad Institute di Massachusetts, Amerika Serikat, berhasil mencetak rekor dunia baru dalam bidang bioteknologi. Penelitian terbaru mencatat organoid otak manusia mampu bertahan hidup selama hampir enam tahun di laboratorium.
Pencapaian ini melampaui rekor durasi bertahan hidup organoid sebelumnya yang hanya mencapai 694 hari. Seperti dilansir dari Detikcom, beberapa spesimen organoid jaringan sel saraf tersebut bahkan dilaporkan telah memasuki usia tujuh tahun.
Organoid otak merupakan kumpulan sel saraf (neuron) tiga dimensi buatan laboratorium yang dirancang meniru fungsi organ aslinya. Pada umumnya, jaringan sel selebar biji lada ini hanya bertahan dalam hitungan minggu atau bulan.
Meskipun berkembang tanpa tubuh, jaringan sel saraf ini menunjukkan tingkat kompleksitas yang luar biasa. Sel-sel dalam organoid tersebut menghasilkan jenis sel baru dalam kurun waktu dua minggu hingga tiga bulan.
Peneliti menemukan bahwa organoid otak ini memiliki mekanisme untuk menyimpan catatan sejarah perkembangannya sendiri. Hal tersebut memungkinkan jaringan sel mengetahui secara tepat usia perkembangannya seiring berjalannya waktu.
Metode penelitian dilakukan dengan mengambil neuron dari spesimen organoid tua, lalu menanamnya ke dalam spesimen organoid yang lebih muda. Pada fase awal, terjadi pematangan neuron yang diikuti pembentukan glia sebagai pelindung sel saraf.
"Kami tidak tahu seberapa jauh perkembangan dan pematangan jaringan otak manusia dapat terjadi di luar konteks otak normal di dalam kepala," ujar Dr Paola Arlotta, profesor Harvard sekaligus penulis penelitian tersebut, dikutip dari IFL Science.
Jaringan neuron rekayasa ini memperlihatkan pembentukan koneksi yang sangat mirip dengan perkembangan organ otak alami. Temuan dari studi bertajuk "Human brain organoids record the passage of time over multiple years" ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 19 Agustus 2026.
"Otak tidak berkembang dalam ruang hampa. Ia adalah organ dengan kompleksitas luar biasa yang berinteraksi dengan begitu banyak sistem lainnya. Bukanlah suatu kepastian bahwa model sederhana kami akan cocok dengan perkembangan alami dalam banyak cara seperti ini," jelas Irene Faravelli, peneliti pascadoktoral di Harvard.
"Kami sedikit terkejut dengan hasilnya," kata Arlotta.
"Itu mungkin merupakan bukti utama, tetapi jelas kami perlu mencari tahu bagaimana menggunakan pengetahuan yang baru didapat ini untuk memungkinkan pemahaman tentang tahap perkembangan selanjutnya, tanpa harus menunggu bertahun-tahun hingga organoid tersebut tumbuh," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow