Penjualan Pertamax Turun, Banyak Outlet Pertashop Terancam Tutup

Smallest Font
Largest Font

Banyak outlet Pertashop menghadapi risiko penutupan akibat penurunan penjualan Pertamax setelah harga BBM jenis ini naik secara signifikan, menyebabkan pengguna beralih ke Pertalite.

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPHMI), Steven, sebelum kenaikan harga, penjualan Pertamax di satu outlet bisa mencapai 400 liter per hari, namun kini hanya sekitar 100 liter per hari.

"Maka, yang terjadi adalah disparitas itu menekan kelayakan usaha. Ada selisih harga, kemudian permintaan mulai bergeser dari produk nonsubsidi menjadi ke produk subsidi. Volume penjualan menurun, biaya per liter juga akan naik, dan juga outlet akan terancam tutup," ujar Steven dalam Rapat Audiensi dengan Komisi XII DPR, dilansir dari Detik Oto.

Steven menambahkan bahwa saat ini penjualan BBM subsidi masih banyak dilakukan oleh pedagang eceran dengan harga lebih murah dibandingkan Pertamax. Padahal, Pertashop memiliki 6.500 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia dan seharusnya dapat diberdayakan untuk menjual BBM subsidi.

"Penertiban eceran. Karena sudah ada jaringan kami, Pimpinan, di seluruh wilayah pelosok Indonesia. Kenapa tidak dimanfaatkan?

Sebab kehadiran kami tentunya membawa hal-hal positif bagi daerah di mana kami berada. Harap ini menjadi pertimbangan, Pimpinan," ujar Steven.

Seiring kenaikan harga Pertamax, Pertamina mencatat adanya peningkatan konsumsi Pertalite. Sebelum kenaikan, konsumsi Pertamax mencapai 23,2 persen dan Pertalite 75,4 persen. Setelah harga naik, komposisi Pertalite naik menjadi 80,3 persen, sementara Pertamax turun menjadi 18,8 persen, dengan Pertamax Green 0,2 persen dan Pertamax Turbo 0,7 persen.

"Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," ujar Eko Ricky Susanto, Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, pada Juli lalu.

Peningkatan konsumsi juga terjadi pada biosolar yang naik menjadi 94,2 persen dari sebelumnya 93 persen, sementara konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex turun 6,4 persen dibandingkan rata-rata harian normal. Hal ini diakibatkan kendaraan industri yang beralih menggunakan BBM subsidi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed