Pertamina Patra Niaga Dorong EBT dan Pertanian di Cilacap

Smallest Font
Largest Font

Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang berdampak langsung pada masyarakat terus didorong oleh Pertamina Patra Niaga. Komitmen ini direalisasikan lewat Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN) di Kalijaran, Cilacap, seperti dilansir dari Detik Finance.

Program MAPAN menggabungkan energi terbarukan dengan pengembangan sektor pertanian dari hulu hingga hilir. Inisiatif ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan irigasi, minimnya modernisasi usaha tani, serta dampak perubahan iklim terhadap produktivitas lahan.

Sistem irigasi pertanian berbasis energi hibrida menjadi salah satu inovasi utama yang diterapkan. Sistem ini mengandalkan kolaborasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati menjelaskan bahwa integrasi EBT bertujuan untuk memperkuat produktivitas serta kemandirian ekonomi warga setempat.

"Di Kalijaran, energi terbarukan kami integrasikan dengan kebutuhan pertanian, mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pengembangan usaha masyarakat. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program," kata Dian.

Listrik yang dihasilkan dari fasilitas EBT digunakan untuk mengalirkan air ke lahan persawahan dan hortikultura. Pasokan energi ini mendukung proses produksi padi, pengolahan gabah, pembuatan pupuk dan pakan dari dedak, hingga budidaya perikanan dan ternak bebek.

Masyarakat di bagian hilir juga diajak mengembangkan produk turunan, seperti telur asin, keripik, beras olahan, dan makanan pendamping ASI (MPASI). Total kapasitas sistem EBT di lokasi tersebut mencapai 15.250 Wp.

Fasilitas tersebut mampu menyuplai rata-rata 150.000 liter air per hari dan menekan emisi karbon hingga 2.860 kg CO₂eq per tahun. Penggunaan sistem ini menekan biaya operasional pompa diesel hingga Rp9 juta dalam dua musim tanam.

Program MAPAN telah menjangkau 233 penerima manfaat, termasuk buruh tani, petani gurem, petani perempuan, serta keluarga prasejahtera. Kelompok yang terlibat meliputi GAPOKTAN Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, KWT Tandur Makmur, dan KWT Mekar Jaya Lestari.

"Keberlanjutan menjadi bagian penting dari program ini. Karena itu, kami mendorong penguatan kapasitas kelompok dan kolaborasi dengan berbagai pihak agar inovasi yang sudah berjalan dapat terus dikembangkan dan direplikasi. Harapannya, Kalijaran dapat menjadi contoh bagaimana pemanfaatan EBT dapat berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat," ujar Dian.

Hingga saat ini, program tersebut telah bekerja sama dengan delapan pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, dan komunitas. Kerja sama ini membentuk dua kelompok baru serta memperluas area replikasi hortikultura di tiga titik lahan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed