Pertamina Buka Peluang Turunkan Harga BBM NonSubsidi Mulai Juli 2026

Smallest Font
Largest Font

PT Pertamina (Persero) membuka peluang untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi secara bertahap apabila tren penurunan harga minyak mentah dunia terus berlanjut.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Robert Dumatubun, mengatakan bahwa harga BBM non-subsidi ditentukan berdasarkan mekanisme yang berlaku di Indonesia dengan mengacu pada perkembangan harga minyak mentah dunia.

Oleh karena itu, apabila harga minyak dunia terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu ke depan, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga berpeluang dilakukan oleh pihak manajemen.

"Tentunya apabila harga minyak dunia seiring waktu menurun, maka potensi penurunan harga BBM non-subsidi seperti yang sudah terjadi, contohnya pada BBM non-subsidi jenis solar, dapat dilakukan," ujar Robert, Minggu (28/06/2026).

Faktor Penentu Harga BBM Non-Subsidi

Meski demikian, Robert Dumatubun belum dapat memastikan kapan penurunan harga BBM non-subsidi akan direalisasikan secara resmi kepada masyarakat.

Menurutnya, keputusan tersebut sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik global yang terjadi saat ini.

"Kita semua berharap kondisi geopolitik dapat berangsur membaik sehingga menyebabkan harga minyak dunia kembali normal," katanya, Minggu (28/06/2026).

Sebelumnya, fluktuasi harga energi global sempat memicu penyesuaian harga jual eceran di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Indonesia.

Jenis BBM Non-Subsidi Harga Lama per Liter Harga Baru per Liter (per 10 Juni)
Pertamax (RON 92) Rp12.300 Rp16.250
Pertamax Green 95 (RON 95) Rp12.900 Rp17.000

Dorongan Jajaran Dewan Komisaris

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan atau Iwan Bule, meminta jajaran direksi segera membahas penyesuaian harga BBM non-subsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026.

Menurut Iwan, dorongan tersebut muncul setelah harga minyak mentah dunia sempat mengalami penurunan menyusul tercapainya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss.

"Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun," kata Iwan, Jumat (26/06/2026).

Ia menjelaskan, harga BBM non-subsidi yang berlaku saat ini masih mengacu pada rata-rata harga minyak mentah beberapa waktu lalu ketika harganya berada di kisaran 80 dollar AS per barel akibat memanasnya konflik di kawasan Teluk.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga sekitar 71 dollar AS per barel pada 26 Juni 2026.

Kondisi Pasar Minyak Mentah Global

Meski sempat turun, harga minyak mentah dunia terpantau kembali menguat pada Senin (29/6/2026) pagi setelah ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat.

Eskalasi terbaru tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Kontrak berjangka minyak Brent dilaporkan naik 52 sen atau 0,72 persen menjadi 72,51 dollar AS per barel, sedangkan minyak mentah WTI menguat 71 sen atau 1,03 persen ke level 69,94 dollar AS per barel.

Jenis Minyak Mentah Kenaikan Nilai Persentase Harga per Barel
Minyak Brent 52 sen 0,72% 72,51 dollar AS
Minyak WTI 71 sen 1,03% 69,94 dollar AS

Perkembangan dinamis pada pasar minyak mentah internasional ini terus dipantau secara ketat oleh Pertamina guna menentukan kebijakan harga domestik yang tepat waktu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed